Tags

Berani Tidak Disukai, Sudah Siap Belum?

Sekitar dua bulan lalu, seorang teman mengunggah story WA foto tumpukan buku donasi untuk Taman Baca yang beliau dirikan di rumahnya, TBM Al-Farabi yang berlokasi di Krian, Sidoarjo. Ada dua buku yang menarik minat saya untuk dibaca, salah satunya buku yang akan saya review ini, yaitu Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. 

Sebenarnya saya sudah tau buku ini sejak lama. Sudah sering juga saya intip isinya tiap pergi ke  Gramedia. Akan tetapi saat itu saya belum benar-benar tertarik untuk membacanya. Sehingga saya selalu mengurungkan niat untuk membeli buku tersebut. Nah, saat saya lihat buku ini ada ditumpukan buku donasi untuk TBM Al-Farabi, saya langsung mengomentari story nya dan rikues untuk pinjam dua buku sekaligus. Alhamdulillah beberapa waktu kemudian beliau mengirim buku tersebut ke rumah saya. 

Kebetulan buku ini sampai saat saya baru menyelesaikan baca buku yang lain. Sehingga saya langsung membaca buku ini. Awalnya sih agak bingung, karena merasa kok penulisnya kayak meremehkan emosi orang ya. Tapi semakin saya baca, saya merasa semakin relate dengan kondisi yang saya hadapi saat ini. Walau ada beberapa hal yang belum bisa saya pahami. Ada juga yang menurut pandangan subjektif saya, kurang saya setujui. Heuheu~

Spesifikasi Buku

Judul : Berani Tidak Disukai

Penulis : Ichiro Kishimi & Fumitake Kago

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2023

Jumlah Halaman : 323 Halaman

Berani Tidak Disukai

Apakah kamu pernah mengalami hari-hari yang membuatmu sangat penat sehingga ingin mengurung diri saja di kamar? Atau mungkin kamu merasa sangat merana karena trauma masa lalu yang menghantui? Atau kamu merasa rendah diri karena, lagi-lagi, merasa tidak ada yang menyukaimu? Saya rasa buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Kago ini bisa menjadi kawan berdialektikamu untuk bisa memahami dirimu sendiri. 

Buku ini menggunakan format dialog antara seorang pemuda dengan seorang filsuf. Ceritanya si pemuda mengunjungi sang filsuf untuk mengajaknya berdebat mengenai banyak hal dalam kehidupan. Seperti trauma, overthinking dan sejenisnya. Dasar teori yang digunakan adalah teleologi dari seorang psikolog bernama Alfred Adler yang berpendapat bahwa hidup ini sederhana dan diri kita di masa kini seharusnya tidak dipengaruhi oleh masa lalu. Teori Adler ini bertentangan dengan psikolog sezamannya yaitu Sigmund Freud dengan aetiologisnya dimana menurut Freud sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Teori yang digunakan oleh Adler sangat bertolak belakang dengan teori Freud. Bahkan pada masa itu, banyak yang kurang setuju dengan teori Adler karena dianggap terlalu mengabaikan realitas yang ada. 

Saat awal membaca buku ini, saya merasa dasar teori yang digunakan oleh penulis kok seolah mengabaikan perasaan orang lain. Sebagai contoh saat membahas tentang trauma, penulis menyatakan bahwa trauma itu tidak ada. Namun pada realitanya banyak orang yang mengalami depresi, baik ringan hingga berat, karena trauma masa lalu yang masih menggelayuti. Sehingga first impression saya ketika membaca buku ini : sepertinya buku ini tidak cocok untuk orang dengan permasalahan kejiwaan akut. Apalagi penulis juga menyatakan bahwa sesuatu yang terjadi di masa lalu tidak perlu terlalu dipikirkan. Mungkin hal ini mudah saja diterima oleh orang yang tidak mengalami depresi. Tapi jika orang itu mengalami masalah kejiwaan akut hingga mendapatkan intervensi medis, tentu pernyataan tersebut akan sangat menyakiti hatinya. Karena terkesan mengabaikan emosi yang ada. Akan tetapi, setelah saya membaca terus buku ini, halaman  demi halaman, saya merasa pemikirannya ya ada benarnya juga. Walau lagi-lagi, mungkin kamu akan tetap denial dengan pernyataan si penulis. 

Dalam teori Adler, dikenal dengan istilah Pembagian Tugas. Menurut penulis, jika kita memahami bahwa dalam kehidupan dunia ini masing-masing individu sudah memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Sehingga jika sesuatu terjadi diluar kendali kita, maka bukan tugas kita untuk memikirkan apa yang diluar kendali kita. Kita cukup fokus pada apa yang menjadi tugas kita agar kita terhindar dari overthinking yang tidak perlu. Ya, Adler sudah tau bahwa ini tidak akan mudah diterima. Akan tetapi menurut Adler, inilah jalan untuk bisa memiliki hati dan pikiran yang lebih lega. Mungkin bahasa jaman now untuk pembagian tugas ini adalah soal setting boundries

Sebagai contoh adalah kita merasa takut jika orang lain tidak bisa menerima kita atau mungkin tidak menyukai kita. Menurut Adler, kalau ada orang yang tidak suka sama kita itu wajar saja terjadi. Karena tidak mungkin semua orang di dunia ini akan menyukai kita. Pasti akan ada orang yang tidak suka dengan kita bahkan membenci kita. Jadi kalau ada yang nggak suka, ya sudah biarkan saja. Karena itu urusannya dia. Nggak ada urusan sama kita. Kita fokus saja dengan apa yang menjadi tugas hidup kita, nggak usah sibuk mikirin sikap orang terhadap kita. Menurut Adler, kalau kita sibuk mikirin sikap orang ke kita itu artinya kita masih butuh pengakuan orang lain. Kita masih terlalu melekat dengan diri kita seolah-olah pusat dunia ini adalah aku. 

Penulis tuh ngajakin kita untuk nggak usah pusing-pusing amat sama pandangan orang lain soal diri kita. Tapi bukan berarti kita harus apatis jadi orang. Melainkan kita perlu melihat diri kita dan orang lain secara positif agar kita punya hubungan mendalam dengan diri kita dan orang lain. Serta kita lebih disibukkan dengan hal-hal bermakna daripada sibuk mikirin hal yang nggak penting, yang dapat menghambat pertumbuhan diri kita. 

Selain itu menurut Adler, banyak orang yang hidup tidak di saat ini. Seringkali perasaan dan pikirannya melayang ke masa lalu dan masa depan. Padahal ia hidup hari ini. Sehingga daripada kita memikirkan sesuatu yang sudah lewat dan sesuatu yang belum terjadi, lebih baik kita fokus pada apa yang terjadi di hadapan kita saat ini. Daripada kita bertanya Kenapa hal ini terjadi padaku? Lebih baik bertanya Apa yang bisa saya lakukan hari ini? 

Ada beberapa hal yang saya suka dari buku ini seperti misalnya penulis menyatakan bahwa lebih baik kita memulai perubahan diri dari hal-hal kecil saat ini juga. Daripada kita merencanakan hal-hal besar tapi nggak juga kita lakukan, yang pada akhirnya rencana tinggallah rencana. Relate banget dengan kehidupan people jaman jigeum yang keakehan wacana minim aksi, termasuk saya 🤪. Mungkin dalam filosofi Jepang disebut dengan kaizen. Selain itu penulis juga mengajak untuk berfokus kepada hal-hal yang bermakna. Mungkin dalam islam kita menyebutkan beramal soleh. Karena dengan menyibukkan diri untuk beramal soleh, melakukan hal-hal yang  bermakna akan membuat kita terhindar dari pikiran negatif yang nggak penting amat untuk kita pikirkan. 

Semakin saya membaca buku ini, saya merasa isinya semakin relate dengan apa yang saya alami akhir-akhir ini. Entah kenapa saya seringkali mudah marah dan baper akhir-akhir ini yang menyebabkan saya mengalami overthinking dan kebingungan dalam menghadapi diri saya sendiri. Ada beberapa hal yang bisa saya aplikasikan dari teori Adler yang dijabarkan oleh Pak Kishimi dan Pak Koga dalam buku ini. Tapi ada juga hal-hal yang tentu masih sulit untuk bisa saya pahami apalagi untuk diaplikasikan. Tapi bagi saya, buku ini sangat membantu saya untuk melihat hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari, selama itu baik, terasa lebih bermakna. 

Tentu ada hal yang kurang saya setujui seperti misalnya istilah bintang penuntun yang membantu kita untuk fokus pada tujuan agar tidak goyah. Mungkin sebagai seorang muslim, kita nggak usah pake istilah itu dan menggantinya dengan istilah ridho Allah sebagai tujuan utama dari setiap hal yang kita lakukan. 

Buku ini cocok untuk kamu yang sedang ingin memahami diri sendiri, merasa kebingungan dengan perasaan negatif yang dialami, dan suka takut tidak disukai orang lain. 

Buku ini tidak cocok untuk kamu yang mengalami masalah kejiwaan akut dan masih butuh validasi. 

Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller
Newest Older

Related Posts

Post a Comment