Tags

Momen Mengenali Diri

 

Sejak saya menyadari bahwa ada trauma yang perlu disembuhkan dalam diri saya, saya juga jadi memanfaatkan momen ini sebagai ruang untuk lebih mengenali diri saya. Apa yang terjadi dengan saya? Kenapa hal semacam itu bisa terjadi? Apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Dan pertanyaan lainnya muncul untuk lebih menggali diri saya. 

Ternyata selama ini saya sering mengabaikan diri saya. Saya lebih sering melihat keluar daripada ke dalam diri saya. Seringkali motivasi untuk melakukan sesuatu terjadi karena membandingkan diri saya dengan orang lain. Bukan karena menemukan apa yang ada di dalam diri saya. Akibatnya overthinking saya jadi tambah parah daripada berkurang. 

Dengan menyadari adanya trauma dalam diri saya, saya belajar untuk mengenali trigger yang menyebabkan emosi atau trauma saya meletup. Lalu saya juga belajar mengenali gejala dan cara mengatasinya. Sebagai contoh, ketika ada kejadian yang men-trigger emosi saya, ada gejala yang tidak enak muncul pada tubuh saya. Saya nggak bisa menjelaskannya seperti apa. Yang pasti rasanya nggak enak banget. Rasanya seperti ingin mengamuk bahkan ada dorongan ingin menyakiti. Saya berusaha untuk menahannya sekuat tenaga. Namun justru hal tersebut terasa menyakitkan. Barulah saya tahu gara-gara baca buku Melampaui Luka Ibu, bahwa gejala semacam itu muncul karena adanya trauma yang tersimpan dalam otot tapi sudah di cut off oleh memori otak. Salah satu cara untuk menyelesaikan masalah semacam ini adalah dengan cara melakukan olahraga seperti tinju ataupun pound fit. Pokoknya jenis olahraga yang membuat otot seperti menghempaskan sampah keluar dari tubuh. Tapi karena saya nggak bisa olahraga di luar rumah. Maka saya melakukan apa yang saya bisa lakukan di rumah. Biasanya mencari senam yang banyak lompat-lompatnya. Tapi jika saya merasa capek dengan yang seperti itu, saya hanya melakukan yoga ringan untuk membuat otot saya lebih rileks.

Dengan mengenali trigger dan gejalanya. Saya juga belajar untuk memahami batasan diri saya. Dengan begitu trigger dan gejala yang muncul dapat teratasi dengan lebih cepat tanpa terlarut di dalamnya. 

Selain itu saya mencoba membaca ulang hasil talents mapping saya serta membaca lagi juz diri saya. Saya mencoba mengamati hasil keduanya dan saya menyadari bahwa sesuatu yang seharusnya menjadi kekuatan saya malah berbalik menjadi kelemahan karena saya terlalu terkungkung dalam trauma saya. Saya lebih sering meratapi apa yang saya alami daripada mencoba keluar dan mencari solusinya. Hal ini kemudian menyebabkan apa yang seharusnya menjadi kekuatan saya, sebuah potensi dari Allah yang bisa saya gunakan untuk jadi bermanfaat, malah berbalik menjadi sesuatu yang bertambahnya kelemahan saya. 

Pada hasil talents mapping, connectedness jadi menjadi bakat terkuat saya yang kedua. Connectedness ini membuat seseorang yang memiliki sifat bakat ini bisa menghikmahi apa yang dialaminya. Akan tetapi jika sifat bakat ini tidak disadari dengan baik, maka akan membuat si pemilik sifat bakat ini jadi mudah overthinking. Maka sifat bakat ini perlu disadari dan diberdayakan agar tidak terus menerus ter-hijack oleh kelemahan diri dan membuat saya jadi tidak berdaya. 

Menurut saya jenis bakat ini cocok dengan hasil penafsiran juz diri saya pada Psikologi al Qur’an. Dalam penjabarannya dikatakan bahwa kelemahan saya kalau nggak di kelapa ya di emosi saya. Namun kekuatannya adalah pada kecakapan menganalisis berbagai persoalan. Lagi-lagi hal ini berkaitan dengan kemampuan otak. Jadi menurut pemahaman saya, saya berkesimpulan bahwa memang sebenarnya saya memiliki kekuatan pada aktivitas berpikir. Tapi karena ada trauma dalam diri saya yang meng-hijack, kekuatan yang seharusnya membangkitkan semangat saya untuk jadi berdaya justru melemah karena diri saya yang terkungkung dalam trauma. 

Dengan mencoba lebih keras untuk memahami diri saya melalui talents mapping dan juz diri pada Psikologi al Qur’an, saya jadi banyak belajar dan menyadari bahwa ternyata Allah sudah menginstall kan potensi dalam diri yang bisa digunakan untuk menyembuhkan trauma. Selanjutnya potensi kuat itu dapat dimanfaatkan untuk menjalankan peran dan menjadi berguna bagi lingkungan yang lebih luas. Namun sebelum menjadi bermanfaat untuk banyak orang, terlebih dahulu saya harus menyembuhkan trauma saya dulu. 

Tentu perjalanan ini akan sangat lama. Saya nggak mau menganggap diri saya terlambat dalam menyadari trauma ini. Karena hanya akan membuat saya jadi tambah tidak berdaya. Melainkan saya akan memanfaatkan momen ini untuk terus berupaya menyembuhkan diri saya dan menemukan kesejatian dalam diri. 

Semoga saya ridho dengan apa yang saya alami dan Allah ridho dengan ikhtiar yang saya upayakan. 


Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller

Related Posts

Post a Comment