Hampir semingguan ini saya lagi baca bukunya Mark Manson yang judulnya Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Setelah sebelumnya baca buku Berani Tidak Disukai dengan bahasa yang penuh kelembutan, baca bukunya Pak Mark membuat saya terkaget-kaget dengan kenyablakannya 😝. Padahal biasanya nyablak, giliran orang lain nyablak malah kaget 🤪. Tapi saya seneng dengan sikap blak-blakannya Pak Mark. Selain bikin saya manggut iya-iya, juga bikin saya ketawa ngikik cekikikan karena lucu bet. Walau tentu ada hal-hal yang menurut pandangan subjektif saya kurang tepat. Tapi perihal ini skip aja dulu. Karena saya ingin menampar diri sendiri melalui refleksi saya ketika baca buku ini.
Sepanjang membaca bab 1 dan bab 2 buku ini, satu kesimpulan besar yang terlintas dipikiran saya, yaitu : kita menginginkan kenyamanan tapi mengabaikan prosesnya. Kita tuh sering banget deh terpesona dengan pencapaian seseorang. Kayaknya hidupnya dia enak banget gitu. Pingin juga deh bisa kayak si dia, sukses, kaya raya dan bisa punya segalanya. Tapi kita sering melupakan proses yang dia alami untuk bisa mencapai dititik itu. Bisa jadi dia mengalami banyak kesakitan dan penderitaan yang kita sendiri belum tentu bisa menanggungnya.
Kadang mungkin kita iri dengan hal-hal sepele dari orang lain, seperti misalnya produktivitasnya. Dia kok produktif banget, sedangkan saya gini-gini doang kayak nggak ada perkembangan. Tapi kita menafikan rasa sakit yang mungkin sedang dia hindari dengan cara melakukan kegiatan yang menurut kita produktif. Padahal kalau misalnya kita mau level produktifnya sama kayak dia, belum tentu juga kita bisa melalui rasa sakit yang dia alami 🤪.
Satu lagi contoh paling nyata yaitu soal menikah dan punya anak. Yang belum nikah mungkin ingin seperti orang lain yang udah nikah. Enak ya pasti punya pasangan. Ada temannya kesana kemari, teman bercerita dan segala macamnya. Tapi kita suka lupa enaknya nikah itu sepaket dengan segala macam gelutnya. Wkwkwkwk. Lalu yang belum punya anak pingin juga punya anak kayak yang lain. Pasti bahagia rasanya punya anak yang lucu, imut dan menggemaskan. Tapi orang suka lupa, kebahagiaannya juga sepaket dengan lelah fisik dan mental dalam mendidik dan merawatnya. Belum masa hamil, melahirkan, menyusui, sapih dan toilet training yang sama sekali nggak mudah. Kalo soal ngasi makan doang insyaa Allah mudah, tapi mendidiknya itu maa syaa Allah. Lelahnya nggak bisa diceritain. Wkwkwk.
Atau mungkin kita tidak iri dengan pencapaian siapapun. Tapi kita punya impian untuk meraih sesuatu. Boleh saja di alam imajinasi kita segala yang kita impian terasa enak, nyaman, aman, dan tentram. Tapi untuk mencapainya pasti ada proses yang dilalui kan? Proses tersebut biasanya nggak pernah nyaman-nyaman aja. Pasti ada bagian nggak nyamannya. Dan seringkali kita menyerah pada prosesnya, karena terlena dengan kenyamanan hasil pada imajinasi kita.
Oleh karenanya buku ini, Pak Mark mengingatkan bahwa dalam hidup ini pasti akan selalu ada masalah yang kita hadapi. Akan selalu ada penderitaan yang akan kita lalui. Apapun pilihan hidup kita, masalah akan selalu ada. Kita selalu ngeliat enaknya hidup orang lain yang entah kita dambakan atau karena kita nggak punya kayak yang dia punya. Tapi masalahnya enaknya hidup orang itu juga sepaket dengan penderitaan dan rasa sakit yang dilalui dalam prosesnya. Makanya Pak Mark mengingatkan rasa sakit seperti apa yang ingin kita hadapi? Atau semisal Pak Mark adalah seorang beragama Islam, mungkin isi nasihatnya begini : Lelah seperti apa yang ingin kita lalui dengan Lillah?
Ahzek... Ahzek... Joss!
Ah, iya yaaa. Padahal Allah sendiri udah ngengetin juga melalui surah al Balad ayat 4 bahwa "Sungguh, Kami ciptakan manusia dalam susah payah." Tapi seringkali kita terlena dengan fatamorgana kenyamanan. Lagipula ini kan dunia ya, memang bukan tempatnya juga untuk leha-leha. Walau memang manusiawi kok kalo kita mendambakan kenyamanan atau apapun itu yang tampaknya enak. Tapi kita juga harus realistis, bahwa tidak ada kenyamanan atau hal enak lainnya yang tanpa rasa sakit di dalam proses mencapainya. Oleh karenanya kita boleh memimpikan apapun itu. Tapi jangan lupa untuk menerima konsekuensi dari proses yang akan kita alami.
Selain itu ada baiknya kita fokus saja dengan apa yang ada dihadapan mata. Mensyukuri apa yang kita miliki sembari menikmati proses yang kita jalani saat ini. Jalannya memang nggak mudah, tapi disitulah istimewanya. Kita nggak putus asa dengan prosesnya karena kita melakukannya demi ridho Allah. Bukan untuk mencari validasi manusia.
Tsaaaahh~






Post a Comment
Post a Comment