Sepagian ini saya tetiba teringat dengan pengalaman saya berkunjung ke Australia Education Expo di salah satu hotel di Malang. Waktu itu saya pergi dengan salah seorang teman kos saya dan juga teman kuliahnya dia. Saat kami ada di stand University of South Australia, saya nanya gini ke mbaknya,"Mbak, sekolah terbaik dan paling favorit di Australia itu yang mana?" Lalu mbaknya bilang,"Kalau di Australia nggak ada istilah sekolah terbaik apalagi favorit sih. Semua sekolah pasti bagus. Entah itu universitasnya maupun sekolah dasar dan menengahnya. Tinggal pilih aja sih maunya tinggal dimana. Kalau maunya yang biaya hidupnya murah biasanya di Adelaide.Kalau sukanya yang kota banget dan suka hura-hura, biasanya di Sydney. Terus nanti tinggal nentuin mau jurusan apa. Tinggal cari kampus yang sesuai dengan minat kita deh."
Merenungi pernyataan mbaknya itu, rasanya Indonesia masih jauh dari model sekolah yang seperti itu. Kalau di Indonesia, banyak orang tua yang rela kerja banting tulang bagai kuda dan anter jemput anaknya berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah demi sekolah yang bagus. Jarang banget ada sekolah bagus dekat rumahnya. Kalaupun ada, ya memang kebetulan aja itu sekolah dekat dengan rumahnya. Selain itu, sekolah di Indonesia ada sistem seleksinya. Baik itu sistem seleksi secara akademik ataupun secara finansial keluarga. Untuk poin kedua ini tentu terjadi tidak secara formal. Anak-anak dari kalangan finansial sangat mampu, tentu bisa bersekolah di sekolah manapun. Mau itu sekolah internasional kek, sekolah alam kek atau apapun itu namanya. Mereka dapat dengan mudah untuk mengakses sekolah unggul dengan fasilitas bagus manapun yang mereka mau. Namunnada juga orang tua yang kondisi finansialnya biasa saja, tapi mengusahakan anaknya sekolah di sekolah yang katanya bagus dan unggul. Meski harus bekerja bagai kuda, mengurangi budget makan dan hura-hura, yang penting anaknya bisa sekolah di sekolah bagus, fasilitas memadai dan lingkungan yang baik.
Sedangkan untuk sekolah negeri, ada sistem seleksi entah dari nilai, prestasi ataupun zonasi. Tapi ada juga sekolah negeri yang sistem seleksinya murni dari nilai saja. Jadi mereka yang nilainya bagus dan unggul yang bisa masuk di sekolah itu.Sedangkan yang nilainya pas-pasan dengan kapasitas otak yang ya gitu deh, maka sekolahnya juga di sekolah yang biasa saja. Selain itu untuk yang kondisi finansialnya pas-pasan bahkan kurang, mau nggak mau mereka sekolah di sekolah yang sesuai dengan kondisi mereka tanpa mikirin apakah sekolah itu bagus apa nggak. Yang penting anaknya bisa sekolah.
Ada juga yang kondisinya nggak kalah ngenes yaitu anak-anak yang tinggalnya di pedalaman atau daerah yang dilabeli 3 T alias Tertinggal, Terdepan, Terluar. Mereka harus pasrah dengan kondisi sekolah yang reot, kualitas pengajaran ya seada-adanya, serta tentu tanpa fasilitas apapun. Lha wong punya bangunan sekolah aja udah syukur, kok mau nyari fasilitas lainnya. Udah gitu, itu sekolah belum tentu dekat dengan rumah siswanya. Bisa jadi banyak siswa yang harus menyusuri hutan yang jalannya naik turun nan berlumpur, atau menyeberangi sungai yang entah ada jembatan atau harus pakai perahu. Pokoknya sehari-hari mereka auto cosplay jadi Ninja Hatori. Saya nggak habis pikir, di tahun 2026 saat Indonesia katanya udah 81 tahun merdeka, masih aja ada rakyatnya yang harus hidup dengan kondisi demikian. Pemerintahnya dari dulu pada ngapain dah? Tidur? Korupsi mulu sih kalian pada. Kayak harta korupsinya bakalan bikin tenang dan selamat dunia akhirat aja!
Kondisi sistem persekolahan di Indonesia yang demikian tanpa kita sadari akan menimbulkan sekolah sesuai kelas masyarakatnya. Ada sekolah yang bisa diakses oleh orang-orang mampu, ada sekolah untuk anak yang unggul, dan ada juga sekolah yang untuk orang-orang kalangan bawah. Kok nggak adil banget ya?
Bahkan kadang tanpa kita sadari kita tuh udah dilevel diskriminatif ketika memilih sekolah. "Oh, saya mau sekolahin anak saya di situ aja. Disitu sekolahnya bagus, akhlak anaknya pasti terfilter karena keluarganya dari kalangan terdidik, fasilitasnya juga lebih bagus daripada sekolah A,B, C, D. Udah gitu murid-muridnya juga kreatif, pinter-pinter dan nggak males. Kalo di sekolah yang ono noh kurang sip. Udah gedungnya biasa aja, gurunya nggak telaten. Belum lagi anak muridnya yang aduh, akhlaknya itu lho nggak banget. Ah, pokoknya kuranglah." Tanpa kita sadari pembandingan macam gini bikin kita jadi diskriminatif dalam menilai sekolah. Tentu sisi lain kurangnya keseriusan pemerintah dalam mengurusi masalah sistem sekolah di Indonesia semakin menambah lebaaaarrrr kesenjangan yang ada. Mau sampai kapan?
Kondisi fisik sekolah yang baik, fasilitas yang mumpuni, biaya yang sangat terjangkau bagi semua kalangan, kualitas guru yang terbaik, kualitas pengajaran terbaik, seharusnya menjadi hak dasar bagi semua anak Indonesia. Bukan hanya bagi kalangan tertentu saja.Jika kondisi ini tidak menjadi perhatian pemerintah dan tidak juga segera diatasi oleh pemerintah, akan sampai kapan kita mengalami kondisi semacam ini? Bagaimana bisa kita mencapai Indonesia Emas kalau sistem sekolahnya masih saja seperti ini?
Membicarakan soal pendidikan dan sistem sekolah tidak akan cukup dalam satu unggahan blog ini. Akan tetapi yang menjadi dasar keresahan saya adalah akan sampai kapan ketidakadilan dalam sistem sekolah di Indonesia ini berlangsung? Saya tau pendidikan terbaik itu letaknya di keluarga. Tapi terkait sistem sekolah tidak lepas dari peran pemerintah dalam mengurusi hal ini. Karena banyak keluarga yang butuh partner seperti sekolah untuk membersamai tumbuh kembang anaknya.
.png)





Post a Comment
Post a Comment