Sekitar bulan Juli 2024, saya dichat oleh seorang teman komunitas saya. Beliau punya kelas stimulasi gitu di rumahnya. Beliau menanyakan apakah Hening jadi mau ikut Rupinsya atau nggak? Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan. Karena kebetulan saat itu usia Hening sudah hampir 3 tahun. Saya rasa sudah waktunya lah ya untuk bersosialisasi lebih intens. Mengingat anaknya introvert banget bin slow to warm puoooll. Selain itu juga saya merasa butuh partner di luar rumah dalam mendampingi tumbuh kembangnya Hening. Serta saya butuh ide main juga dalam mendampingi Hening. Namun, ada dua hal yang menjadi kegalauan saya saat itu yaitu soal bangun pagi dan sarapannya Hening.
Saat itu, Hening masih suuuullliitt sekali dibangunin. Udah gitu makannya juga bikin saya takbir mulu saking lamanya dia ngunyah. Lalu saya jadi overthinking seketika, kayak mana lah nanti kalo sudah waktunya masuk Rupinsya? Gimana banguninnya? Gimana caranya biar makannya nggak lamban. Emang sih jadwal kelasnya cuma dua kali dalam seminggu. Tapiiii, effort untuk bangunin dan nyuapin ini lho yang bikin overwhelmed 😩.
Apa Itu Rupinsya_Kids?
Sebelum saya ngecepres lebih jauh, mungkin ada yang bertakon-takon juga, Apaan tuh Rupinsya?
Jadi Rupinsya_Kids adalah singkatan dari Rumah Pintar Syaqilla_Kids. Rupinsya ini semacam ruang informal dimana sang founder membuka kelas stimulasi bagi anak-anak. Tidak hanya untuk anak usia dini, anak SD pun bisa distimulasi disini. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa Rupinsya bukan tempat terapi. Jadi kalau anak njenengan punya masalah psikologis seperti ADHD, speech delay, dan sejenisnya, bawa ke terapis dulu yaaa. Namun Rupinsya bisa menjadi partner untuk stimulasi ananda.
Lokasi Rupinsya_Kids adalah di rumah sang founder di Sidoarjo. Tepatnya di daerah Bligo, Candi. Karena kelas stimulasinya di rumah, maka beliau hanya membuka kelas kecil untuk tiap jenjang. Biasanya maksimal 7 anak saja.
Untuk anak usia dini, anak-anak masih didampingi ibunya. Jadi saat proses stimulasi berlangsung, ibunya juga ikutan main di dalam kelas. Nah, ini yang bikin saya suka sama Rupinsya. Karena saya tidak perlu langsung melepas anak saya, tapi saya bisa ikut bermain sama dia di kelas. Sehingga ketika kelas berlangsung, nggak ada drama kumbara yang gimana banget. Hahaha. Apalagi Hening tipikal anak yang masih sulit beradaptasi. Sehingga saya nggak perlu khawatir ketika mengikutkannya kelas stimulasi di Rupinsya.
Nah, saat anak-anak sudah naik jenjang ke Kiddies 2, anak-anak sudah bisa ditinggal di kelas. Itu pun nggak langsung ditinggal gitu aja. Melainkan mereka dapet kesempatan 1 semester di awal untuk main bareng ibu di kelas, sambil di sounding bahwa semester 2 nanti anak-anak mainnya sama Ummi aja. Ibunya nunggu di teras. Nah, ini juga yang saya suka dari Rupinsya. Proses “melepaskan” anak dari ibunya dilakukan secara manusiawi bin kids friendly. Biar nanti pas anak masuk TK, drama kumbara sekolah tanpa didampingi ibu nggak yang drama banget atau bahkan tidak terjadi drama.
Perihal biaya bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Karena sang founder tidak menetapkan biaya tertentu melainkan infak seikhlasnya. Mungkin temans akan bingung mau ngasi berapa. Tapi sesuaikan dengan kemampuan aja. Karena beliau tidak menjadikan Rupinsya sebagai tempat mencari nafkah melainkan sebagai ladang amal soleh agar ilmunya nggak menguap.
Untuk info lengkap bisa langsung intip-intip di Instagramnya RUPINSYA_Kids.
Awal Masuk Rupinsya
Sebagaimana yang saya ceritakan di awal, bahwa Hening itu sangat sulit beradaptasi. Udah gitu susah bangun pagi dan makannya luamaaaaa banget. Sehingga ketika awal masuk Rupinsya tentu ada aja drama kumbaranya. Wkwkwk
Pada pertengahan Juli, saat observasi, Hening sama sekali nggak mau mencoba satupun stimulasi yang sudah disediakan. Jadi kami disana hanya melihat saja. Wkwkwk. Tapi saya pikir ya sudahlah, nggak apa-apa. Saya juga nggak bisa memaksa.
Lalu pada awal Agustus 2024, kelas pertama di mulai. Untungnya saat itu, teman seangkatan Hening ada 11 orang. Jadi kelasnya di bagi jadi 2 sesi yaitu jam 07.30 dan jam 10. Tentu saya milih yang siangan. Itu aja drama banget banguninnya. Hahahaha. Saat hari pertama, Hening hanya mau melakukan 1 stimulasi saja. Selebihnya ya hanya ditonton. Bahkan dia sama sekali nggak mau bersalaman dengan Ummi Leli. Nggak mau main sama teman-teman sekelasnya. Ya diem aja gitu mengamati. Tapi lagi dan lagi, saya nggak mau memaksa.
Nah, dipertemuan kedua, Hening nggak mau ke Rupinsya dong. Hahaha. Alhasil dia bolos kelas, mungkin 2x pertemuan. Tapi setiap jadwal stimulasi, saya tetap menawarkan. Kalau dia menolak, ya sudah nggak apa-apa.
Pada pertemuan ke 4, tiba-tiba setelah sarapan dia lepas baju di depan kamar mandi. Katanya dia mau pergi ke Rupinsya. Hahaha. Alhamdulillah, nggak pake dirayu dia mau berangkat sendiri. Meski demikian, pas waktu di kelas dia nggak selalu mau mengikuti stimulasi. Anggap saja dari 5 stimulasi yang disediakan, dia hanya mengikuti 2 stimulasi saja 😂. Tapi saya nggak pernah masalah dengan sikapnya yang demikian walau kadang ada rasa nggak enak karena anaknya tuh seperti enggan untuk di dekati, enggan berinteraksi dan segala macamnya.
Namun seiring berjalannya waktu, alhamdulillah, secara perlahan Hening mau ikut semua rangkaian stimulasi bahkan mulai mau bersalaman dengan Ummi Leli. Udah gitu biasanya ada sesi presentasi karya, yang sederhana tentunya. Awalnya Hening ngomong pake bahasa kalbu, pelan-pelan mulai keluar suaranya meski kecil kayak semut. Hahahaha. Sampai akhirnya berani mengeluarkan suara yang lebih terdengar jelas 🥲. Maa syaa Allah terharu.
Teman-Teman Pertama Hening
Sebenarnya, teman-teman di Rupinsya bukan teman pertama yang dikenal oleh Hening. Tentu sebelumnya Hening punya teman, tapi tidak akrab. Teman-teman di Rupinsya adalah teman-teman pertama Hening bersosialisasi secara intens. Teman-teman pertama yang membuat Hening mulai bisa menyapa dan bertemu teman berantem juga tentunya 😂. Untung aja nggak sampe adu jotos 😂.
Hening baru bisa akrab dengan teman-teman di Rupinsya setelah 1 tahun dia mengikuti kelas stimulasi. Bagi saya, 1 tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi saya sangat mengapresiasi keberanian Hening membuka diri terhadap orang lain. Dulu, Hening selalu memilih main sendirian disaat teman yang lain main bareng. Teman-temannya pada asik lari-larian, Hening seringkali asik sendirian. Meski sudah saya tawarkan untuk ikut main dengan temannya, dia nggak pernah mau. Tapi sejak mulai akrab dengan teman-temannya, Hening nggak pernah mau ketinggal main bareng 😂. Sejak saat itu, Hening mulai tau asiknya main bersama teman. Saking teman-teman Rupinsya sangat berkesan di hatinya, hampir tiap hari minta digambarin teman-temannya satu per satu. Wkwkwkkwk.
Saya masih ingat betul pertama kali dia mulai akrab dengan salah satu teman Rupinsya nya bernama Hana. Waktu itu mereka ngeliatin ikan di akuarium milik anaknya Ummi Leli. Lalu mereka asik berdua ngeliatin ikan sambil saling rangkul. Senyum Hening merekah sekali sampai pulang ke rumah. Momen tersebut langsung saya foto dan videokan, kemudian saya kirim ke ayahnya. Ayahnya seneng banget tau anaknya mulai bisa bersosialisasi dengan temannya. Sejak hari itulah Hening jadi makin akrab dengan Hana dan teman-teman Rupinsya lainnya.
Terus saya juga masih ingat momen ketika salah satu temannya, Sharifa, mengenalkan Hening ke ayahnya. Katanya, “Ayah, ini bestie aku.” Huuu, terharu banget anakku punya teman-teman yang so sweet.
Dulu, setiap selesai kelas, mereka langsung pada buru-buru keluar untuk main di taman dekat Rupinsya, nyari bunga dan liat kecebong di selokan. Selain itu juga mereka sering rebutan pangkuan Ummi Leli untuk mimpin do’a. Sebelumnya mana pernah Hening kayak gitu.
Sejak mulai akrab dengan temannya di Rupinsya, Hening jadi lebih mudah bersosialisasi dengan teman baru. Seperti misalnya kayak di lingkungan rumah. Hening sudah punya teman main sejak ngaji di masjid. Waktu yang dibutuhkan untuk bisa akrab dengan teman ngajinya tidak selama yang dialami ketika dia di Rupinsya dulu. Itu artinya, pertemuan intens dengan teman Rupinsya menstimulasi kehidupan sosialnya yang kemudian membantunya untuk mudah beradaptasi ketika bertemu teman baru di tempat yang lain. Alhamdulillah. Terima kasih teman-teman Rupinsya ❤.
Pengalaman Hening bersosialisasi dengan teman-temannya di Rupinsya, sangat berkesan bagi kami, orang tuanya. Kami sangat bersyukur karena anak kami mendapatkan pengalaman berteman yang baik dengan teman-teman yang baik. Walau tentu kadang Hening pernah berantem, rebutan mainan dan segala macamnya. Tapi bagi saya itu bagian dari pengalaman berharga bagi Hening untuk kehidupan sosialnya.
Meski Hening dan beberapa teman Rupinsya sudah tidak lanjut ikut kelas stimulasi di Rupinsya lagi, alhamdulillah mereka masih akrab sampai sekarang, termasuk mamak-mamaknya juga. Bahkan kadang kami playdate bareng untuk mengobati rindu.
Semoga silaturahmi ini tetap terjalin dengan baik sampai kapanpun ya, teman-teman ❤











Post a Comment
Post a Comment