Spesifikasi
Judul : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : Grasindo
Jumlah Halaman : 243 halaman
Awalan yang Membagongkan
Mark Manson mengawali buku ini dengan ajakan untuk Jangan Berusaha. Disaat banyak motivator mendorong audiensnya untuk selalu berusaha, jangan putus asa, Manson malah ngajakin pembacanya untuk jangan berusaha. Dilatar belakangi dari kisah Charles Bukowski, seorang penyair dan penulis asal Amerika. Dalam buku ini, Manson mendeskripsikan Bukowski sebagai seorang yang hobi mabuk, main cewek, penjudi berat, kasar dan kikir. Bisa kebayang nggak tuh betapa buruknya makhluk ini? Tapi bagi Manson, menceritakan kisah hidup Bukowski menjadi awalan yang bagus untuk buku ini 😂.
Bukowski punya cita-cita jadi penulis, tapi berulang kali dia masukin tulisannya ke penerbit, nggak ada satupun penerbit yang sudi menerbitkan tulisannya. Karena dia nggak kunjung bisa mewujudkan cita-citanya, dia tetap bekerja sebagai tukang stempel di kantor pos dengan gaji yang amat rendah. Namun dia juga tetap menulis syair-syairnya di mesin tiknya. Meski hidupnya serba susah, tabiatnya sebagai pecandu alkohol, penjudi dan suka main cewek tetap jalan. Dan kehidupannya yang seperti ini terus berlanjut selama 30 tahun.
Saat usianya sekitar 50 tahun, secara mengejutkan ada penerbit kecil yang tertarik dengan tulisan-tulisannya Bukowski. Karena tidak mau kehilangan kesempatan bagus ini, Bukowski menerima tawaran dari penerbit dan menulis sebuah novel yang bisa ia selesaikan dalam waktu 3 minggu. Tawaran dari penerbit kecil tersebut menjadi titik balik hidup Bukowski. Ia kemudian menjadi seorang penyair dan penulis terkenal dan tentu banyak uang. Meski kehidupannya telah berubah, tabiat buruknya nggak pernah berubah. Bukowski masih tetap menjadi Bukowski yang dulu : pecandu alkohol, penjudi, kasar dan kikir.
Bagi Manson, yang membuat Bukowski bisa menjadi sukses dan terkenal bukan karena Bukowski berusaha untuk mendapatkan semua itu. Melainkan karena Bukowski selalu jujur dengan perasaannya, merasa nyaman dengan dirinya yang demikian dan nggak terobsesi dengan kesuksesan. Bukowski masa bodo dengan apapun tanggapan orang terhadap dirinya, bahkan meski ia dilabeli gagal. Karena perjalanan hidupnya yang demikian, pesan yang tertulis di batu nisan Bukowski adalah : jangan berusaha. Tapi tentu saya nggak bisa setuju dengan anjuran ini. Karena bagaimanapun, dalam hidup kita harus tetap berusaha. Selain itu jika melihat kisah Bukowski, meski tulisannya ditolak terus, dia nggak pernah berhenti menulis syair. Dia tetap menulis selepas menyelesaikan pekerjaannya. Bukankah aktivitasnya yang demikian bisa tetap disebut sebagai bentuk usaha? Walau memang dia nggak pernah mengubah kebiasaan buruknya, tapi keadaan nggak menghentikannya untuk tetap menulis. Tapi, ya sudah. Itukan pandangan subjektif seseorang ya. Kalo dia masih hidup, pendapatnya itu bisa saja akan berubah. Heuehu.
Kenapa Bodo Amat?
Mungkin banyak dari kita akan beranggapan bahwa bodo amat yang dimaksud oleh Manson adalah bentuk ketidakpedulian terhadap sesuatu ataupun seseorang. Namun ternyata bukan begitu yang dimaksud oleh Manson. Bagi Mark Manson, sikap bodo amat yang dia maksud adalah teguh dengan pendirian dan nilai-nilai baik tentang kehidupan, serta merasa nyaman untuk menjadi berbeda. Sebagai contoh nih ya, ada orang tua yang memilih untuk menempuh jalur homeschooling atau HS karena alasan tertentu. Pilihan yang demikian tentunya tidak umum bagi sebagian besar orang tua, tapi tidak bagi orang tua homeschooler yang merasa metode HS lah yang paling cocok untuk anaknya. Terlepas dari anggapan orang dengan keputusannya ya bodo amat. Biar aja orang berpendapat apapun, karena ia tetap dengan pendiriannya.
Bagi Mark Manson, kita harus fokus pada apa yang paling penting dalam hidup ini dan berani menghadapi resiko akan kesulitan hidup yang pasti bisa kita tanggung. Nah, disini nih opininya Manson yang saya suka. Dia mengingatkan pembaca bahwa yang namanya hidup, kesulitan itu pasti ada. Nggak ada istilahnya hidup itu enak-enak aja, seneng aja dan sejenisnya. Mau kita kaya atau nggak punya duit, kesulitan pasti tetap akan kita temui. Makanya Manson ngajakin kita untuk realistis aja dalam hidup. Pilih takdir kita sendiri yang kesulitannya bisa kita hadapi. Jangan sampai bercita-cita ini dan itu, tapi nggak mau menghadapi resikonya. Itu namanya kita nggak realistis.
Dalam buku ini juga, Mark Manson memberi kritik pada orang-orang yang terlalu terbuai akan kebahagiaan. Bagi Manson, kita nggak perlu-perlu amat untuk nyari tips cara agar bahagia. Karena kesulitan hidup akan selalu ada, gimana caranya mau bahagia kalo kita nggak tangguh menghadapi kesulitan? Makanya nih Manson ngingetin untuk nggak perlu mengejar kebahagian ataupun kesenangan. Karena makin dikejar akan bikin kita makin nggak bahagia. Karena seringkali kebahagiaan dan kesenangan membuat kita mengukur diri kita dengan kehidupan orang lain. Kalau ukurannya adalah orang lain, yang ada kita akan merasa kurang terus. Akhirnya kita nggak bahagia juga. Makanya lagi-lagi Manson mengingatkan agar kita memiliki nilai hidup dan memilih takdir yang kesulitannya bisa kita hadapi dan pertanggungjawabkan. Itulah kenapa Manson mengajak untuk bersikap bodo amat. Maksudnya tuh orang mau kayak gimanapun hidupnya ya udah sih biarin aja. Yang penting kitanya ini lho fokus aja ke diri sendiri dan punya pendirian sendiri. Karena dengan demikian, kita akan berkembang. Kalau kita ngikutin kayak gimana orang lain, seringnya kita jadi mandek.
Bersikap bodo amat bukan berarti kita egois dan nirempati ke orang. Justru kita jangan egois dulu ke diri sendiri dan berempati dulu ke diri sendiri. Karena dengan cara inilah kita bisa nyaman dengan diri sendiri dan nyaman dengan kehidupan yang kita jalani.
Penderitaan Bukanlah Akhir
Hal lain yang saya suka dari buku ini juga adalah Manson ngingetin bahwa mengalami penderitaan bukan berarti suatu hal yang buruk. Karena seringkali penderitaan justru menjadi keadaan yang baik untuk perkembangan jiwa. Hanya saja, untuk bisa memaknainya kita harus punya nilai yang tepat. Karena dengan cara yang demikian, penderitaan dapat membantu kita menuju perubahan arah hidup yang lebih baik.
Akan tetapi kadang memang nggak bisa dipungkiri, banyak orang yang nggak sanggup menanggung penderitaan yang dihadapi. Sehingga kondisi tersebut membuatnya putus asa dan berakhir bundir. Itulah kenapa Manson ngajakin untuk bodo amat. Bodo amat akan gimanapun penderitaan yang datang menghampiri, kita tetap bisa menghadapinya meski kadang tertatih-tatih. Karena jika jita sanggup menanggungnya, pasti akan memberikan hasil baik bagi hidup kita.
Akhir Buku Yang Bikin Merenung
Akhir buku ini nggak kalah membagongkannya sekaligus bikin merenung. Karena Manson menutup buku ini dengan cerita tentang kematian. Dalam bab terakhir ini, Manson bercerita tentang temannya yang mati karena terjun ke danau. Dia terjun bukan karena mau bundir, tapi karena pengaruh alkohol dan kedudulannya yang pingin nyoba terjun. Akhirnya saat terjun, dia nggak bisa mengendalikan dirinya dan mengalami kram di kakinya yang membuat dia tenggelam.
Kejadian tersebut membuat Manson depresi berat karena ia kehilangan teman yang ia sayangi. Namun justru saat mengalami depresi itu menjadi titik balik bagi Manson yang mengubah arah hidupnya. Dia menyadari bahwa pada akhirnya semua orang akan mati. Maka dia berpikir, seharusnya hidup nggak dipake buat senang-senang saja, melainkan sebaiknya digunakan untuk melakukan hal-hal yang lebih berguna. Walau memang pada akhirnya kita suka takut dengan kematian. Bahkan untuk membahasnya pun kita takut. Tapi jika kita mengingat kematian, kita nggak akan membuang waktu untuk hal yang nggak penting.
Secara keseluruhan buku ini bagus sih. Walau ada hal-hal yang saya rasa kok kayak jadi kontradiktif ya. Misalnya pas awal buku, Manson bercerita tentang kisah Bukowski dengan anjurannya untuk jangan berusaha. Tapi anjuran itu jadi kontradiktif dengan apa yang Manson bahas di sub bab tentang Lakukan Sesuatu di halaman 184, yang ngajakin untuk terus bertindak, jangan diam saja. Karena ajakan untuk terus melakukan sesuatu bukankah sama saja dengan mengajak untuk berusaha? Karena melakukan sesuatu dengan berusaha bukankah sama-sama aktivitas yang butuh pergerakan? Atau mungkin saya yang salah tangkap dengan konteks bahasannya? Entahlah! Hahaha. Namun meski demikian, ada hal-hal bagus yang bisa didapat dari tulisan Manson ini kok. Ada banyak dari pernyataannya yang justru ngajakin untuk merenungi diri kita dan tentang kehidupan ini. Baca aja deh~






Post a Comment
Post a Comment