Seringkali kita mendengar seseorang melabeli dirinya sebagai Si Otak Kiri karena mungkin dia punya kemampuan bahasa yang baik atau mungkin mahir di bidang eksak. Ada juga yang melabeli dirinya sebagai Si Otak Kanan karena ia mahir menggambar atau mahir pada hal-hal yang berkaitan dengan seni. Bahkan ada juga yang gencar mempromosikan untuk menjadi Si Otak Kanan dengan alasan yang tampaknya masuk akal sih, tapi… Hmm…
Teori ini sudah tersebar luas di masyarakat bahkan diyakini sebagai sebuah kebenaran bahwa ada orang yang dominan otak kiri, ada juga yang dominan otak kanan. Namun tahukah teman bahwa teori ini tidak memberikan kebenaran ilmiah?
Ada banyak sekali penelitian terbarukan yang dilakukan oleh para ahli neurosains yang membuktikan bahwa dominansi pada otak kiri atau otak kanan adalah mitos. Memang betul bahwa otak manusia terdiri dari 2 belahan yaitu pada belahan kiri dan kanan. Dan masing-masing belahan memiliki fungsi spesifik. Namun bukan berarti keahlian kita pada bidang tertentu dikarenakan dominansi pada belahan otak tertentu. Menurut Robert H. Shmerling, MD dalam artikel pada laman situs HarvardHealth.edu (Right Brain / Left Brain, Right?) menuliskan bahwa jika otak matematikawan dibandingkan dengan otak seniman yang dilihat melalui CT Scan atau MRI, tidak akan menunjukkan banyak perbedaan ataupun dominasi pada otak tertentu.
Selanjutnya pada artikel tersebut juga Robert memberikan bukti berdasarkan studi tahun 2013 dari Universitas Utah dari hasil penelitian terhadap 1000 orang berusia 7 - 29 tahun. Peneliti membagi berbagai area otak menjadi 7000 wilayah dan menemukan bahwa kedua sisi otak tidak berkaitan dengan kepribadian seseorang. Serta tidak ditemukan bukti adanya kecenderungan pada salah satu sisi otak.
Memang betul otak kiri dan otak kanan memiliki kecenderungan fungsi tertentu. Seperti misalnya otak kiri berfungsi untuk berpikir logis dan menata pikiran menjadi kalimat. Sedangkan otak kanan merasakan berbagai berbagai macam emosi, pusat kreativitas dan memahami isyarat non verbal. Namun bukan berarti seseorang yang ahli dibidang tertentu memiliki dominasi pada belahan otak tertentu.
Menurut Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson dalam buku The Whole-Brain Child menuliskan bahwa kunci otak yang tumbuh dengan baik adalah dengan mengintegrasikan antara bagian satu dengan yang lain. Karena pada otak terdapat Corpus Callosum, serabut yang menghubungkan antara otak kiri dan otak kanan. Serabut inilah yang memungkinkan otak untuk terhubung, terintegrasi dan dapat bekerjasama sebagai satu tim. Justru jika seseorang memiliki dominasi pada otak tertentu harusnya khawatir. Karena jika dominan otak kanan, maka ia akan lebih mudah tantrum. Namun jika ia dominasi otak kiri, maka ia akan menjadi orang yang sangat kaku kayak kanebo kering 😌. Oleh karenanya Daniel dan Tina menyarankan agar kedua belahan otak diintegrasikan. Otak yang terintegrasi akan berdampak pada pengambilan keputusan yang lebih baik, kendali tubuh dan emosi yang lebih baik, pengenalan diri yang jauh lebih utuh, hubungan yang lebih kuat, dan kesuksesan di sekolah.
Menurut Daniel, akan ada banyak masalah yang muncul jika kedua belah otak tidak terintegrasi. Menggunakan salah satu belahan otak saja seperti berenang dengan 1 lengan. Otak yang bekerja dengan baik akan membuat seseorang lebih mudah mengatur emosinya, mempertimbangkan berbagai konsekuensi atas pilihannya, berpikir sebelum bertindak, dan mempertimbangkan perasaan orang lain. Sehingga mengintegrasikan kedua belahan otak akan lebih baik.
Lalu, bagaimana mengintegrasikan kedua belahan otak?
Ada banyak cara yang direkomendasikan oleh para ahli untuk mengintergrasikan kedua belahan otak. Seperti misalnya : melakukan gerakan bilateral, melakukan meditasi ataupun kegiatan mindfulness lainnya, melakukan kegiatan yang membutuhkan kreativitas serta analisis sekaligus, baca buku, bersosialisasi dan berdiskusi, serta brain games. Kegiatan ini juga bisa dilakukan pada anak-anak.
Menspesifikasikan seseorang sebagai si otak kiri atau si otak kanan, entah karena kepribadian ataupun kecenderungannya, memanglah menarik. Tapi ini adalah sebuah kekeliruan yang tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas. Mitos usang seperti dominasi otak ini perlu ditanggalkan (unlearn) karena sudah tidak relevan dengan kenyataan yang ada.
Tuhan memberikan kita 2 otak untuk digunakan dengan sebaik-baiknya tanpa harus dilatih salah satunya saja. Melainkan mengintegrasikan keduanya agar kita dapat berpikir, bertindak dan berperilaku lebih baik.
Apakah teman masih mengkategorikan diri atau orang lain sebagai otak kiri atau otak kanan? Mulai sekarang, tanggalkan teori tersebut ya 😉.
(Artikel ini bukan tulisan ilmiah yang bisa dijadikan rujukan. Melainkan hanya sebuah catatan dari perjalanan unlearning saya terhadap suatu pengetahuan ataupun kejadian).






Post a Comment
Post a Comment