Tags

Hati yang Gembira Adalah Obat

 

Beli buku ini saat Penerbit Mizan lagi ada promo di web nya. Tanpa pikir panjang, saya langsung berselancar menuju webnya Mizan dan menemukan promo buku non fiksi 100 ribu dapet 3. Terus saya cek-cek, kira-kira ada judul yang menarik nggak?! Oh, ada!!!! Ya, saya langsung centangin tuh 3 buku paling menarik lalu cek out 😆.

Sejujurnya saya langsung istighfar setelah cek out buku. Mengingat saya masih punya buku baru dan belum terbaca. Tapi ya gimana ya. Namanya emak-emak ekonomis, mana mau melewatkan kesempatan berharga itu. Alhamdulillah suami saya pengertian. Jadi kalo ada buku baru dateng, dia nggak bakal komen ataupun nggerundel. Karena dia tau, buku yang dibeli pasti dibaca sama istrinya. Xixixi. 

Sebenarnya pas sebelum cek out buku, saya agak ragu mau membeli buku ini. Apakah saya benar-benar membutuhkannya? Karena saya kalo beli buku nggak sekedar asal beli. Meski belinya karena impulsif, tapi kalo emang isinya sesuai kebutuhan ya saya beli. Dan setelah buku ini sampai rumah, lalu sebulan kemudian saya baca –karena sebelumnya saya menyelesaikan bukunya Mark Manson dulu– ternyata saya nggak salah beli buku. Buku ini emang cocok dengan kebutuhan jiwa saya saat ini. Xixi. Ringan, hangat, sederhana dan yang paling penting, reminder nya nancep di hati si overthinker profesional ini. Xixixi

Spesifikasi

Judul : Hati yang Gembira Adalah Obat

Penulis : Sophie Navita

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 160 halaman

Hati yang Gembira Adalah Obat

Buku ini tipis banget, jadi saya rasa cocok banget untuk menemani hari-hari gedebag-gedebug para overthinker profesional 😂. Sebelum mulai bahas bukunya, saya perkenalkan dulu penulis buku ini, tipis-tipis aja. Penulis buku ini adalah Sophie Navita, istri dari Pongki Barata (ex vokalis Jikustik). Seorang public speaker dan sering banget jadi MC di acara-acara besar, baik on air ataupun off air. Beliau juga seorang ibu dari 2 anak homeschooling. Tapi sekarang anak-anaknya udah pada kuliah euy. Beliau juga seorang penyanyi dan baru aja meluncurkan single barunya. Jujur, saya belum denger, tapi tau dikit dari story IG nya. Hahaha. Dan peranan lainnya yang nggak bisa disebut karena bakal kepanjangan. 

Sophie Navita mengawali buku ini dengan mengajak pembacanya untuk menyamakan persepsi dulu. Apa itu overthink? Apa itu gembira? Lalu beliau juga menjelaskan kenapa sih kita nggak perlu overthinking lagi? Apa dampaknya terhadap diri kita secara jasmani maupun ruhani? Lalu kenapa obat overthinking adalah hati yang gembira? 

Menurut pengetahuan penulis, gembira itu berbeda dengan senang atau happy. Senang itu hanya sebatas urusan jasmani saja. Sedangkan gembira atau joy itu bisa melampaui dimensi ruhani. Gembira menurut pengetahuan penulis adalah sukacita. Dasar filosofinya adalah bahwa hidup di dunia itu kan nggak mungkin senang-senang saja. Pasti ada sedihnya, marahnya, kesalnya, dan ujiannya. Kesulitan hidup itu selalu berdampingan dengan kemudahan. Sehingga untuk menghadapinya perlu hati yang penuh sukacita. Kondisi hati yang penuh sukacita ini akan memudahkan kita untuk bisa menerima dan menghadapi segala musim di kehidupan yang fana ini. 

Oke, kedengarannya mudah tapi nyatanya sulit untuk dijalani. Dan mungkin kita juga pasti akan bertanya, bagaimana caranya bergembira saat hidup terasa penuh himpitan? Nah, sejak awal buku ini, penulis memberikan reminder yang mungkin terdengar klise tapi BENER! Mungkin terdengar menggurui bagi orang yang sedang kalut. Namun menurut saya pengingat dari penulis ini, bener banget! Penulis mengingatkan bahwa kita, semua kita, adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Mengasihi. 

Bagi penulis, identitas dasar setiap manusia bahwa ia adalah ciptaan Tuhan. Identitas dasar ini semestinya kita jadikan jangkar kehidupan, sehingga kita dapat menghadapi naik turunnya kehidupan. Apapun yang terjadi, kita harus tetap mengingat bahwa diri kita ada di dalam genggamanNya. Sehingga setiap kali kita merasa kecil, overthinking dan segala macam, kita ingat-ingat aja bahwa ada Tuhan yang akan selalu menunjukkan arah dan memberi terang. 

Dalam buku ini, penulis memang lebih banyak menceritakan kisah hidupnya. Tapi ceritanya nggak detail, ya nggak apa-apa sih. Dan mungkin kita akan kurang merasakan titik traumanya beliau. Lagi-lagi nggak apa-apa. Karena kita nggak perlu tau sampai sedalam itu. Yang penting cukup kita tau bagaimana beliau akhirnya menemukan obat dari kecemasan dan overthink yang dialaminya. Ternyata obatnya tuh sederhana banget, tapi seringkali kita lupa, yaitu lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan berserah kepadaNya. Berserah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan segala urusan kita di kehidupan ini dalam genggamanNya. Percaya bahwa Ia tidak akan pernah mengecewakan hambaNya. Tapi ikhtiar, apapun itu bentuknya, tetap kita jalankan. Kalau dalan Islam, ikhtiar yang dilakukan adalah ikhtiar untuk menjemput ridhoNya. 

Penulis tidak banyak memaparkan teori-teori yang ndakik-ndakik gimana ya. Tapi beliau mengingatkan satu hal itu saja. Satu hal yang sering banget kita lupain padahal efeknya jika dilakukan jauh lebih powerful daripada pergi healing ke hutan, gunung ataupun pantai. 

Ah, iya bener ya. Kayaknya yang bikin masalah mental kita sulit pulih tuh karena kita melupakan urusan spiritual ini. Suatu hal yang harusnya kita utamakan sebelum urusan jasmani. Namun bukan berarti kita mengabaikan soal intervensi medis. Karena tentu bagi orang dengan kondisi mental atau trauma tertentu, mungkin butuh intervensi medis atau psikolog. Langkah ini tetap perlu dilakukan, tapi jangan lupakan juga untuk meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan, atau kita yang Islam sering menyebutNya dengan nama Allah. Saya tau, masalah hidup nggak otomatis mudah setelah kita berusaha lebih dekat dengan Allah. Tapi setidaknya kita punya pegangan yang akan membuat kita tidak mudah goyah saat masalah datang bertubi-tubi. 

Kalo kata Gus Baha’, “Rasulullah aja keluar dari masalah satu, masuk ke masalah-masalah lainnya lagi. Masak kita keluar dari satu masalah terus nggak mau ketemu masalah lagi.” Kondisi nggak ada masalah ini emang nggak mungkin banget. Mengingat ini adalah dunia, tempat manusia ditempa dengan segala macam ujian 😂. 

Ah, pokoknya saya suka banget buku ini. Ringan, hangat, sederhana dan mengingatkan dengan lembut. Kayaknya dari 2 buku self-improvement yang saya baca sebelumnya, baru ini yang terasa lebih spiritual dan menyentuh kalbu. Tsaaahhhh~

Baca aja lah pokoknya. Ini buku ada lucu-lucunya juga kok. Xixi


Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller
Newest Older

Related Posts

Post a Comment