Empat tahun lalu, saya melahirkan Hening. Sebagaimana pengalaman mamak-mamak pada umumnya, saya juga mengalami mom brain atau semacam kondisi gampang lupa dan susah fokus pasca melahirkan. Selain itu saya juga merasa otak saya kopooong banget-banget. Terus juga berasa super lemot melebihi jalannya siput. Sampai-sampai mau ngomong sesuatu, saya lupa dengan diksi yang mau saya gunakan. Terus udah gitu jadi suka tetiba melamun. Ah, pokoknya nggak enak banget lah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, saya mencoba membaca buku. Disela-sela menyusui ataupun saat Hening tidur, saya membaca buku. Pas Hening masih bayi, rasanya mudah untuk memiliki waktu membaca, karena waktu tidurnya yang lebih dari 2 kali sehari. Walau tentu dengan kondisi masih mom brain kala itu, butuh usaha keras untuk memahami isi bacaan. Untungnya buku-buku yang saya baca saat itu adalah buku yang -seolah- memahami kondisi saya sebagai mamak baru yang masih mudah insecure dan overthinking. Sehingga isi bacaan cukup mudah untuk dipahami.
Tapi semakin Hening bertambah usia, waktu untuk membaca buku semakin minim. Udah gitu makin kesini saya merasa jadi mudah overthinking. Overthinking nya juga bikin saya jadi nggak berdaya, mudah panik, emosi nggak karuan. Ah, pokoknya menimbulkan bumi gonjang ganjing pada batin saya. Tentu kondisi ini nggak wenak pol-polan, apalagi sambil ngasuh anak. Sudahlah overthinking, saya pun jadi tambah stres.
Biasanya coping mechanism saya adalah dengan membaca buku. Tapi saya nggak bisa membaca buku saat Hening masih melek. Rasanya nggak fokus dan malah yang ada bikin emosi saya meletup. Jadi ketimbang emosi dan nggak fokus, mending bukunya saya lepas. Akan tetapi dorongan untuk membaca buku rasanya kuat sekali. Namun karena kondisi nggak memungkinkan saya untuk membaca dengan tenang. Kemudian saya mencari-cari waktu paling tenang dari 24 jam yang saya miliki. Tentu jawabannya adalah ketika Hening tidur. Akan tetapi ketika Hening tidur siang, saya juga pasti ketiduran. Saat Hening tidur malam, rasanya nggak mungkin mau begadang untuk membaca buku. Ya mending saya ikutan tidur aja. Nah, saya masih punya sisa 1 waktu tenang yaitu sebelum subuh.
Akhirnya sejak sebelum Ramadhan 2025 kemarin, saya usahakan untuk bangun jam 3 pagi setiap hari. Pokoknya setelah saya selesai sholat dan bersih-bersih rumah, saya langsung baca buku. Saya usahakan rutin setiap hari bangun jam 3 pagi demi bisa me-time dengan membaca buku. Karena saya nggak bisa me-time kayak orang-orang pada umumnya yang ke kafe lah, jogging atau bahkan sekedar makan cilok. Maka jalan satu-satunya ya memanfaatkan waktu sebelum subuh.
Tapi lama-lama bangun jam 3 pagi rasanya kurang untuk memenuhi kebutuhan me-time, maka saya bangun lebih pagi lagi yaitu jam 2 pagi 🤪. Alhamdulillah banget nih, lumayan bikin waktu baca jadi lebih banyak. Bonusnya bisa ngerjain hal lainnya yang dibutuhkan mental. Entah itu olahraga tipis-tipis, menjurnal, ataupun nyimak kajian. Walau kesannya saya mengorbankan waktu tidur yang berharga. Tapi kata para sufi, meminimalisir kenyamanan tidur adalah bagian dari tazkiyatun nafs, ya saya lakukan. Tentu pernyataan tersebut bertentangan dengan teori self-care pada umumnya. Tapi apakah tidur harus 8 jam sehari? Ya, nggak juga kan. Yang penting merasa cukup, ya sudah aman. Lagi pula siangnya saya juga ikutan tidur sama Hening 😅.
Selama merutinkan baca buku tiap hari sebelum subuh, biidznillah terasa sekali manfaatnya. Terutama untuk mengurangi overthinking saya yang kelewat over itu ðŸ¤. Dari beberapa artikel tentang hubungan membaca dan kesehatan mental menyatakan bahwa membaca buku dapat mengurangi stres hingga 60%, meskipun baca bukunya hanya 6 menit. Karena saat membaca, heart rate nya juga turun menuju kondisi normal. Selain itu membaca buku juga bikin otak kita jadi lebih aktif, karena saat membaca kan bikin kita lebih produktif berpikir, tapi lebih ke arah yang positif. Selain itu juga membaca memberikan pengetahun, insight, ide dan juga menumbuhkan kesadaran. Dan ya, saya merasakan sendiri manfaatnya yang demikian. Walau tidak membuatku jadi pinter macam Cinta Laura. Yah, minimal tau cara puk-puk diri sendiri, meski tidak bisa melakukannya sewaktu-waktu. Tapi dengan rutin ngepuk-puk diri melalui membaca, semoga Allah ridho bikin hambaNya ini jadi lebih tenang dan nggak jadi mak lampir terus 😂🤪.
Mengingat hari-hari yang tidak selalu berjalan mulus, punya waktu tenang dan damai setiap harinya, bagi diri saya sendiri jadi penting. Dan membaca adalah salah satu ikhtiar yang saya rutinkan dalam merawat diri dan mengatasi overthinking saya yang berlebihan. Walau tentu baca buku bukan satu-satunya jalan. Tapi bagi saya baca buku adalah cara paling mudah, murah dan nggak perlu keluar rumah.
Semoga kita semua selalu dikaruniakan hati dan pikiran yang tenang ya~
Post a Comment
Post a Comment