Mumpung masih bulan Ramadhan, saya iseng membuka kembali salah satu buku karya Cak Nun yang monumental. Judulnya adalah Tuhanpun Berpuasa. Cocok banget kan dengan momen saat ini yang masih dalam suasana Ramadhan? Saya membukanya secara acak dan seperti biasa, tulisan Cak Nun selalu menampar relung kesadaran. Namun lucunya, buku ini sudah saya khatamkan dan sudah saya baca ulang kembali, tapi kesadarannya hanya tertampar saat membaca bukunya saja. Realita prakteknya ya masih begini-begini saja. Masih menjadi manusia tersesat yang kesabarannya setipis tisu dibelah sejuta.
Tapi tidak mengapa. Manusia akan terus berproses. Meski saya merasa masih jadi manusia yang kurang sabar dan suka merepet ngomel. Tapi pasti ada peningkatan yang saya alami meski masih sangat kecil dan tipis sekali. Sekali lagi tidak mengapa. Progres kecil nan tipis tetaplah progres. Yang penting jangan menyerah untuk ikhtiar menjadi lebih baik.
Masalah yang Menumbuhkan
Biasanya kalau saya habis mengomel atau marah ke Hening, meski marahnya tipis-tipis, saya langsung merasa bersalah banget dan jadi overthinking. Setelah itu saya jadi tidak berdaya dan merasa jadi orang paling bodoh sejagat raya. Padahal mah ya mamak yang suka ngomel di dunia ini nggak hanya saya, tapi banyak banget di luar sana. Tapi entah kenapa saya selalu merasa saya ini yang paling galak dan paling suka ngomel bin marah-marah. Selain itu juga sepertinya saya merasa demikian karena saya memiliki ketakutan akan hubungan saya dengan Hening di masa depan akan sama seperti hubungan saya dengan mamak saya sendiri. Saya dan mamak saya bak 2 negara yang sedang perang dingin. Nah, saya nggak mau mengalami hal semacam ini dengan anak saya nantinya. Tapi entah kenapa menjadi ibu yang sabar nan lembut kayak Mama Jen hanyalah ilusi bagi saya. Akhirnya dalam pikiran yang berkecamuk antara diri saya yang masih jengkel, kesal, marah, tapi juga menyesal, sedih dan malu, saya terjerembab ke dalam rasa tak berdaya berulang-ulang kali.
Selain adanya perasaan tak berdaya akibat kesabaran yang setipis tisu dibelah sejuta, saya juga seringkali mengeluh dan jadi overthinking karena keduniaan yang saya sudah tahu hal itu tidak penting untuk saya pikirkan. Tapi tetap saja saya memikirkannya secara berlebihan yang berakibat munculnya rasa tak berdaya dalam diri.
Meski demikian, saya tetap terus mengingatkan diri saya bahwa masalah apapun yang dialami setiap orang, pasti itu atas seizin Allah. Pasti itu adalah cara Allah menegurnya, menyayanginya dan juga mengingatkannya akan keberadaan Allah. Sehingga masalah yang dialami oleh setiap manusia bukan sekedar ujian, melainkan sapaan lembut dari Allah agar manusia kembali pada kiblatnya.
Selain itu masalah hadir dalam hidup manusia sebagai cara dari Allah untuk membantunya dalam bertumbuh. Nggak mungkin banget deh manusia itu hidup dalam keadaan selalu damai tanpa masalah. Masalah pasti akan selalu ada. Tapi lulus atau nggak dari satu masalah tergantung dari cara manusia itu menghadapinya. Jadi kalau masih mengalami masalah yang sama berulang kali, bisa jadi saya emang belum lulus aja dengan ujian semacam itu. Sehingga diberikan ujian yang sama berulang kali, meski bentuknya berbeda, bisa jadi karena Allah tahu saya belum lulus dan Allah meminta saya untuk berusaha lebih lagi agar bisa lulus. Walau jujur, kadang ada perasaan putus asa karena merasa sulit sekali menjadi orang yang tenang disaat nafsu emosi saya mulai melesat kayak rudal balistiknya Iran.
Receiver Spiritual yang Ngadat
Ketika saya membuka dan membaca kembali lembar demi lembar tulisan Cak Nun dalam buku Tuhanpun Berpuasa, saya jadi merasa menemukan jawaban atas masalah emosi yang tak kunjung selesai ini. Betul memang ada trauma pengasuhan yang mempengaruhi perilaku dan emosi saya saat ini. Akan tetapi ada satu hal paling penting dan paling mendasar yang menyebabkan emosi ini tak kunjung berada dititik tenang, yaitu receiver spiritual saya yang ngadat.
Mengucapkan istighfar atau subhanallah secara lisan memang mudah. Tapi menginternalisasikan kalimat thayyibah dalam laku hidup tuh sulit sekali. Kadang saya merasa beristighfar saja tidak cukup untuk mengatasi masalah emosi saya. Apa yang salah dari saya? Ah, sepertinya sinyal saya dengan Allah kurang kuat. Receiver spiritual saya lagi ada masalah alias ngadat. Itu artinya koneksi saya dengan Allah tidak lancar.
Tentu dalam hal ini Allah nggak salah. Melainkan nafsu duniawi saya yang menghalangi penerimaan sinyal ilahi tersebut. Saya yakin sekali bahwa rahmat Allah turun setiap detik pada tiap manusia. Hanya saja nafsu dalam diri saya yang tidak tunduk atas kehendak Allah. Alhasil rahmat yang seharusnya bisa dirasakan, jadi nggak terasa karena nafsu yang menyelubungi diri.
Saya yakin permasalahan yang saya alami ini dapat menjadi wasilah yang dapat melembutkan hati. Hanya saja hal tersebut dapat terjadi jika saya berpasrah pada apa yang Allah kehendaki atas saya. Bukannya malah terus menerus mengeluhkan apa yang saya alami. Heuh!
Bismillah, momen Ramadhan yang tersisa 1 minggu lagi, semoga bisa menjadi wasilah diri untuk mempuasai dunia. Menjadi pribadi yang lebih elok pekertinya, serta lebih lembut hati dan lakunya. Semoga Allah juga ridho atas segala ikhtiar yang ditempuh. Namun yang paling penting saya ridho atas qadar yang Allah tetapkan atas saya. Aaammiinn.






Post a Comment
Post a Comment