Gara-gara baca biografi Umar bin Abdul Aziz karya Abdurrahman al Syarqawi, saya jadi penasaran dengan bukunya yang lain. Saya jatuh cinta dengan story telling nya al Syarqawi yang bikin otak dan hati saya sampai meletup-letup. Kebetulan awal tahun 2026 kemarin, penerbit Qaf menerbitkan ulang karya al Syarqawi lainnya yang berjudul Biografi Empat Imam. Sesuai judulnya, yang dibahas tentu adalah Imam Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Saya pikir buku ini akan lebih tebal dari biografi Umar bin Abdul Aziz. Mengingat yang dibahas ada 4 orang sekaligus. Karena buku biografinya Umar aja tebalnya kayak bata merah. Namun ketika bukunya sampai rumah, ternyata tebalnya hanya setengah dari buku biografinya Umar 😂. Tapi nggak apa-apa, yang penting mah karya al Syarqawi deh ya. Xixii
Spesifikasi
Judul : Biografi Empat Imam
Penulis : Abdurrahman al Syarqawi
Penerbit : Qaf Media Kreativa
Jumlah Halaman : 311 halaman
Sekilas Tentang Buku
Sebagaimana judulnya, buku ini menceritakan kisah hidup empat imam dari mazhab Sunni yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Dalam buku ini, penulis lebih banyak bercerita tentang bagaimana para imam tersebut belajar, apa saja kontribusi mereka dalam dunia fiqih, sikap mereka terhadap politik dan pemimpin kala itu, bagaimana mereka saling belajar pada satu sama lain, serta apa perbedaan pendapat diantara mereka.
Hal menarik dari biografi yang ditulis oleh al Syarqawi ini adalah, secara tersirat, beliau menunjukkan proses learn, unlearn, relearn dari para imam tersebut. Proses belajar mereka, menurut saya, sangat mengagumkan. Meski mereka sangat pintar, tapi mereka tidak merasa dirinya paling tahu segalanya. Mereka tidak pernah berhenti belajar sampai akhir hayat mereka. Ketika mereka tidak tahu tentang sesuatu, mereka dengan jujur dan berani untuk mengatakan tidak tahu. Mereka juga, terutama Imam Syafi’i, tidak segan untuk belajar ke negeri-negeri yang jauh demi mempertajam keilmuan mereka.
Meskipun mereka adalah imam besar pada jamannya. Namun mereka tidak egois dalam menetapkan fatwa. Mereka berhati-hati betul dalam merumuskan fatwa sebelum menyampaikannya. Karena mereka paham betul bahwa mengeluarkan fatwa, maka kemungkinan besar orang yang mengetahui fatwa tersebut akan mengikuti fatwanya. Oleh karenanya mereka tidak sembarangan dalam mengeluarkan fatwa, agar tidak menjerumuskan banyak orang ke jalan yang keliru.
Selain itu penulis juga menunjukkan betapa cairnya ilmu fiqih yang didalami oleh keempat imam tersebut. Fiqih bukanlah ilmu yang kaku, jika A maka akan seterusnya A. Tidak begitu! Sebagai contoh pada biografi Imam Syafi’i yang mana dikisahkan bahwa Imam Syafi’i banyak mengubah pendapatnya dalam buku yang beliau tulis setelah beliau melakukan studi lebih dalam lagi tentang apa yang ditulisnya dibuku tersebut. Atau contoh lain adalah tentang pernyataan Imam Ahmad, yang mana beliau sebelumnya mengatakan bahwa setiap orang wajib taat kepada ulil amri meskipun ia zalim. Karena menaati ulil amri lebih sedikit mudharatnya daripada memberontak. Namun kemudian Imam Ahmad mengubah pernyataannya setelah beliau membaca kisah Abdullah ibn Mubarak. Imam Ahmad mengatakan bahwa pemimpin yang zalim tidak wajib ditaati. Hal ini menunjukkan betapa cairnya ilmu fiqih tersebut. Cair disini bukan berarti tidak konsisten. Melainkan pendapat dari para imam tersebut dapat berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman, pengetahuan dan disesuaikan dengan konteks jamannya. Yang penting pendapat tersebut tidak menyalahi al Qur’an dan hadist.
Akan tetapi sangat disayangkan porsi penulisan biografi antara satu imam dengan imam lainnya sangat timpang sekali. Yang mana penulisan biografi Imam Abu Hanifah sangat sedikit sekali. Padahal ada kisah lainnya dari Imam Abu Hanifah yang sangat menarik untuk dicantumkan dalam buku tersebut. Tapi nggak apa-apa, mungkin beliau menulis sesuai banyaknya data yang diperoleh dari hasil studi literaturnya. Atau mungkin beliau menuliskan apa yang tidak ditulis oleh penulis biografi lainnya tentang keempat imam tersebut.
Kontemplasi
Setelah menyelesaikan buku tersebut, saya jadi menyadari bahwa keempat imam besar tersebut lentur dan bijaksana. Mereka tidak memaksakan pendapatnya untuk diikuti oleh semua orang. Mereka juga tidak merasa pendapat mereka adalah yang paling benar. Namun yang pasti mereka tetap teguh di atas iman dan takwa, serta menjadikan al Qur’an dan hadist sebagai pedoman hidup mereka. Meski mereka ada memiliki perbedaan pendapat pada hal-hal yang sama. Namun hal tersebut tidak membuat mereka merasa yang paling benar atas pendapat tersebut.
Selain itu saya juga baru menyadari bahwa penetapan hukum mereka pada suatu hal, meski pedoman dasarnya adalah al Qur’an dan hadist, pendapatnya tetap mereka sesuaikan dengan konteks zaman dan lingkungan tempat terjadinya suatu perkara. Hal inilah yang membuat fiqih tampak cair. Tapi saya jadi bertanya-tanya, apakah mungkin ada fatwa mereka yang diubah oleh pengikutnya yang disesuaikan dengan konteks zaman ini? Tapi kalau fatwa yang disanggah oleh 'alim lainnya sih ada. Seperti misalnya Imam Ghazali yang memberikan sanggahan tentang fatwa bersuci dari Imam Syafi'i.
Selain itu saya juga menyimpulkan bahwa yang bikin umat Islam ini berantem terus adalah fanatisme buta akan satu mazhab. Padahal para ‘alim yang beneran ‘alim jaman dulu, nggak ada yang berantem karena perbedaan pendapat. Mereka berdebat, tapi nggak bikin mereka gontok-gontokan. Justru yang bikin ribut tuh adalah pengikutnya yang fanatik. Seharusnya sebagai umat Islam, nggak perlu fanatik terhadap apa yang kita ikuti. Karena perbedaan pendapat itu pasti akan selalu ada sampai kapanpun. Jika kita hanya berfokus pada siapa yang benar dan siapa yang salah, sampai kiamat perdebatan model begini nggak akan selesai.
Kita seharusnya menjadikan perbedaan pendapat sebagai sebuah kekayaan intelektual dalam Islam. Bukannya malah berantem heboh nggak penting hanya karena berbeda pendapat. Apalagi jika perdebatan dilakukan dengan menyingkirkan adab. Tambah repot wes. Oleh karenanya dalam beragama jangan sampai mengedepakan hawa nafsu.
Mau Kasih Nilai Berapa?
Dari 1-10 saya kasih nilai 8. Buku ini bagus, cuma nggak segacor biografi Umar bin Abdul Aziz sih 😂.
Tapi saya tetap merekomendasikan untuk membaca buku ini. Karena membaca langsung bukunya bisa jadi memberikan perspektif beda dengan orang lain yang sudah membaca buku tersebut. Xixi.






Post a Comment
Post a Comment