Tags

Berdamai Dengan Trauma Masa Lalu

 

Dalam proses re-parenting yang saya jalani, berdamai dengan trauma masa lalu adalah hal yang paling sulit. Karena proses ini tidak hanya melibatkan diri saya sendiri, namun juga orang terdekat yang menjadi sumber trauma tersebut. Dalam kondisi emosi yang tidak stabil, seringkali saya mengalami sebuah perasaan yang paradoks. Satu sisi saya tidak menyalahkan kedua orang tua saya atas trauma yang saya alami. Namun sisi lain saya sering mempertanyakan, “Kenapa saya mengalami kondisi semacam ini?”.

Saya dibesarkan dengan didikan VOC yang tidak hanya dibentak dengan nada keras. Namun juga kadang ada sentuhan fisik yang kasar seperti cubitan pada paha yang menyebabkan kebiruan. Bahkan pernah juga terlontar kata-kata kasar nan menyakitkan yang keluar dari mulut seseorang yang seharusnya menjadi ruang aman saya, yaitu ibu saya sendiri. Saya pribadi sudah bisa memaklumi sikap dan sifat beliau yang seperti itu, karena beliau juga dididik dengan amat kasar dan menyakitkan oleh ayahnya yang kasar. Sehingga beliau tanpa sadar bersikap yang sama ke saya dan adik saya. Proses pengasuhan yang demikian mempengaruhi saya dan menimbulkan trauma yang dalam pada diri saya. Karena saya merasa trauma semacam itu sangat menyakitkan, maka saya belajar untuk tidak melakukan hal yang sama kepada anak saya. 

Apakah mudah? Ternyata tidak sama sekali. Membendung badai emosi yang datang ketika ada trigger yang muncul ternyata sulit sekali. Alhasil emosi memuncak dengan segala gejala yang tidak hanya menyakiti secara fisik tapi juga menyakiti saya secara batin. Sejujurnya kadang saya lelah dengan diri saya yang seperti ini. Saya lelah dengan diri saya yang sulit mengendalikan emosi. Lalu rasa bersalah dan penyesalan datang kemudian. Selanjutnya overthinking menghampiri yang mengakibatkan diri tidak berdaya lalu mengutuk diri sendiri. Begitu terus setiap kali emosi mulai meletup. Bagi saya pengalaman semacam ini amat sangat melelahkan. Kadang perasaan putus asa mulai muncul. Lalu mempertanyakan diri, “Apakah Allah nggak sayang sama saya?”.

Tapi saya terus mengingatkan diri saya bahwa ini adalah bagian dari hidup saya yang memang harus saya hadapi. Bahwa saya mengalami hal ini bukan karena Allah nggak sayang. Justru Allah sayang banget, hanya saja saya perlu berusaha lebih lagi untuk bisa keluar dari perasaan-perasaan negatif yang membelenggu. 

Dalam psikologi sufi dikatakan bahwa trauma dan penderitaan emosional dipandang sebagai sebuah peluang transformasi. Bahkan Jalaluddin Rumi menganggap bahwa penderitaan adalah pintu gerbang menuju pencerahan spiritual. Rumi juga mengatakan bahwa kesulitan hidup yang kita alami akan menyembuhkan dan memurnikan kita. Dalam hal ini tentu Rumi tidak sedang mengagungkan penderitaan, melainkan ia memberikan penghiburan bagi para penyintas trauma bahwa ada makna dibalik setiap penderitaan. 

Saya secara pribadi belum mendalami langkah-langkah penyembuhan dalam teori psikologi sufi. Namun dengan membaca pernyataan Rumi yang saya kutip tersebut agak melegakan. Karena ternyata mengalami trauma tidak seburuk itu. Pasti akan ada kebaikan dibalik itu semua. 

Sejak hari pertama saya menyadari ada trauma mendalam yang saya alami. Saya terus berusaha untuk memperbaiki diri saya meski dalam proses tersebut, rasa putus asa juga datang menghampiri. Beragam ikhtiar saya lakukan meski ikhtiar tersebut belum melibatkan profesional seperti psikolog. Untuk kondisi saat ini saya belum bisa ke psikolog, karena Hening selalu ngintil saya kemanapun. Dia nggak akan pernah membiarkan saya pergi sendiri. Sehingga saya memilih untuk mengusahakan apa yang saya bisa. Lagipula mencari psikolog yang cocok dengan diri saya juga bukan hal yang mudah. Maka saya memilih menikmati ikhtiar yang bisa saya lakukan. 

Saya tahu kok bahwa saya bukan satu-satunya yang mengalami trauma akibat orang terdekat. Saya juga sadar banget bahwa apa yang saya alami mungkin nggak seberat orang lain. Pasti ada yang jauh lebih berat lagi dari saya. Tapi saya nggak mau adu nasib dengan siapapun. Jika saya menganggap apa yang saya alami ini berat banget, ya cukup saya saja yang menganggap demikian. Saya nggak mau membandingkan pengalaman saya dengan siapapun. Karena hal semacam ini tidak akan memberikan dampak dalam proses penyembuhan saya. Maka saya memilih untuk fokus saja pada trauma diri dan penyembuhannya. 

Berdamai dengan trauma masa lalu, apalagi dilakukan oleh orang terdekat sendiri, memang cukup berat. Terlebih lagi sampai sekarang kadang masih diperlakukan agak kasar meski hanya ucapan saja. Namun saya yakin rahmat Allah lebih besar dari trauma yang saya alami. Meski kadang saya sering terombang-ambing dalam kebingungan saat menghadapi diri saya, serta terjebak dalam perasaan negatif. Namun pasti semua ini akan mendatangkan kebaikan asalkan saya tetap berusaha untuk keluar dari perasaan negatif dan berani menghadapi trauma tersebut. 

Semangat ya untuk para penyintas. Kamu pasti bisa ❤. 


Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller
Newest Older

Related Posts

Post a Comment