Ketika Hening memasuki usia 4 tahun, Hening selalu ingin melakukan banyak hal sendiri. Mulai dari mandi, pipis sendiri, cuci piring tanpa didampingi dan banyak lagi. Tentunya saya ya seneng-seneng aja, karena jadi punya waktu untuk selonjoran sejenak. Selama setahun saya jadi bisa selonjoran sebentar sambil nunggu Hening selesai mandi atau nunggu dia selesai cuci piring. Namun tentu tidak semua perkakas dapur dicuci olehnya, hanya yang dia sanggup lakukan saja dan tentu itu nggak masalah bagi saya. Akan tetapi, ketika Hening masuk sekolah, tiba-tiba dia jadi ngalem. Nggak mau mandi sendiri lagi. Kalo mau pipis, minta dicebokin. Kalaupun dia pipis sendiri, dia minta saya membuka celananya.
Disclaimer : Saya tidak sedang menyalahkan sekolahnya Hening. Hanya saja saya berusaha memahami perubahan perilakunya.
Lalu saya bertanya-tanya, apakah karena terpisah 4.5 jam bikin Hening merasa perlu terkoneksi lagi dengan saya? Caranya ya dengan ngalem gitu. Selama ini dia memang nggak pernah jauh dari saya sama sekali. Lalu saat sekolah dia harus terpisah dengan saya secara fisik dan jarak yang bikin dia merasa habis ditinggal sangat jauh dan dalam waktu yang lama. Sehingga dia merasa butuh untuk terkoneksi lagi dengan saya. Tentu saya hanya menerka-nerka, karena ini adalah pengalaman pertama saya punya anak yang udah sekolah. Heuheu.
Karena saya merasa Hening tiba-tiba manja dan bikin saya overthinking, kadang saya menanggapi permintaannya untuk dimandiin, dicebokin, dan segala hal yang terkesan manja itu dengan sikap reaktif. Yang terlintas dipikiran saya saat itu adalah gimana nanti dia dimasa depan? Kalau saya menuruti maunya, ntar malah bikin dia manja dan nggak mandiri. Sedangkan dia kan sudah memasuki usia perlu dilatih untuk mandiri. Kalo misalnya dia jadi manja gini, apa-apa dilayani, udah gitu handuk habis mandi ditinggal gitu aja --misalnya--, gimana nanti dia di masa depan? Begitulah kecamuk pikiran dan perasaan saya saat itu.
Selama berminggu-minggu saya dilanda kebingungan dengan perubahan sikapnya Hening dan bagaimana saya harus menanggapinya. Saat itu saya benar-benar nggak tau harus berbuat apa?! Apakah saya layani saja atau saya suruh aja dia kerjakan sendiri, kalau nggak mau ya sudah biarkan?!
Saya benar-benar bingung saat itu. Sampai suatu hari saya melihat story WA salah satu teman di komunitas. Story di WA nya adalah hasil repost dari story orang lain. Story WA itu berisi pengingat bagi setiap orang tua bahwa porsi untuk membangun kedekatan batin dengan anak jauh lebih besar porsinya dari perkara lainnya. Porsi untuk membangun hubungan dengan anak sebesar 70%, membantunya untuk mandiri sebesar 10%, mengarahkannya kepada kebaikan sebesar 10% dan menegurnya saat berlaku buruk sebesar 10%. Story tersebut saya skrinsut, saya baca ulang dan saya renungi.
Sembari merenung, saya juga teringat dengan perkataan Ustadz Bendri yang kurang lebihnya bilang gini, "Jangan bangga jika anak mandiri terlalu dini." Ah, iya! Sepertinya saya terlalu terbelenggu dengan prasangka saya sendiri soal masa depan. Lagian dia kan masih umur 5 tahun, belum mumayyiz, sehingga belum boleh dibebankan dengan tanggung jawab apapun termasuk urusan kemandirian. Ya, anak memang perlu didorong untuk menjadi mandiri, tapi tidak harus diberi tanggung jawab agar mandiri saat ini juga.
Lalu saya recalling momen-momen sebelumnya ketika Hening masih suka nangisan kalo ketemu orang lalu berproses untuk lebih berani dan bisa melakukan ini itu sendiri. Mengelaborasi semua yang terlintas dipikiran saya dan saya menyimpulkan bahwa saya kurang sabar. Slow down, Mia! Slow down! Ambil napas panjaaaaaanngg.... Hembuskaaaannn secara perlahan! Fiuh!
Ah, iya! Saya jadi tersadar bahwa seharusnya saya nggak perlu memburu Hening untuk segera mandiri. Karena nanti pasti dia akan mau mengerjakan sendiri kok. Akan ada waktunya, mungkin bukan sekarang. Tapi nanti pasti akan mandiri seiring dengan berjalannya waktu. Mumpung dia masih umur segini, sebaiknya memang saya lebih fokus membangun hubungan yang hangat dan kuat dengan Hening. Karena semakin baik hubungan kami, insyaa Allah perkara lainnya seperti kemandirian dan segala macamnya juga akan terbangun. Ketika dia minta tolong dilepaskan sepatu, misalnya, seharusnya saya lakukan saja. Nggak perlu reaktif sampai bilang, "Kan udah bisa sendiri. Buka sendiri aja." Nggak, nggak! Saya nggak boleh merespon seperti itu. Seharusnya saya berpikir bahwa ketika dia minta tolong dilepaskan sepatunya dan saya melakukannya, dia akan belajar bahwa kalo ada yang minta tolong ya di tolongin. Jangan sampai saya berprasangka bahwa kalo saya lepasin sepatunya bakalan bikin dia manja. Makanya setiap kali dia mulai ngalem, saya sambil berdoa bahwa saya memohon ridhoMu ya Allah, bantu anakku untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri.
Huh, dasar aku! Nggak sabaran bener jadi emak. Wkwkwkkw.
Lagian dalam surah al - Isra' ayat 106, Allah tuh udah ngingetin untuk slow down, pelan-pelan dan bertahap. Biar apa sih? Biar nggak gampang rungsing, kobongan dan menghancurkan diri sendiri. Saya tau kok ayat tersebut memang secara tekstual ngasi tau tentang al Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah secara perlahan dan bertahap. Tapi bukankah itu adalah bahasa simbol yang ngingetin manusia biar nggak gupuhan? Pelan-pelan saja, nggak usah buru-buru. Semua ada tahapannya. Bahkan Rasulullah aja nyuruh tetap jalan dengan tenang saat mau pergi jamaah ke masjid, meski iqomah sudah dikumandangkan, tetep kudu jalan dengan tenang dan jangan buru-buru. Kalo ada raka'at yang terlewat, nanti disempurnakan. Nah, perkara wajib yang sudah pasti baik aja disuruh tetap tenang dan jangan buru-buru, apalagi perkara mendidik anak.
Sadarlah kau, wahai Miaaaaaaa. Wkwkwkwkkw.
Kadang suka sebel sama diri sendiri yang gupuhan ini. Tapi ya Allah, saya berterima kasih karena telah mengirimkan pengingat melalui wasilah story WA teman dan lainnya. Alhamdulillah. Puji syukur masih diingetin sama Allah. Kalo dibiarin aja mah ya kayaknya udah jadi apa deh saya ini. wkwkwk.
Sepertinya menjadi ibu memang kudu banyak-banyak menahan diri ya. Ya, memang saya harus mendidik anak saya biar jadi pribadi yang mandiri. Tapi tetep nggak bisa tergesa-gesa dan nggak harus segera. Dia akan mandiri pada waktunya kok. Lagipula Hening masih sering kok melakukan banyak hal atas kehendaknya sendiri seperti pasang sepatu sendiri kalo mau berangkat sekolah dan segala macamnya. Saya nggak perlu membandingkan anak saya dengan siapapun. Misal ada anak teman yang seusia Hening udah mandiri banget, ya udah sih biarin aja. Terus kenapa? Anak saya cukup anak saya, nggak perlu saya bandingkan dengan siapapun.
Jadi, chill aja lah ya mama. Hening akan mandiri pada waktunya. Dia akan lebih berani pada waktunya. Dia juga pasti akan pinter pada waktunya. Heuheu~
Apakah mama-mama juga sedang merasakan hal yang sama? Yuk, sharing~






Post a Comment
Post a Comment