Tags

Pesona Baghdad & Andalusia, Meneropong Masa Kejayaan Islam di Baghdad dan Andalusia

 

Sebenarnya saya sudah pernah baca buku ini di Perpustakaan Sidoarjo. Tapi bacanya sekilas aja. Lha wong bacanya sambil mantengin Hening main. Wkwkw. Selain itu juga karena saya nggak punya kartu anggota perpus, sehingga nggak bisa pinjam. Jadinya dibaca sekilas aja, yang penting tahu isinya seperti apa. Kalau menarik, bisalah kita masukkan keranjang dulu, check-out kemudian. Wkwkwk. 

Sampai suatu hari, Ayangbeb nanya lagi pingin apa. Saya jawab aja, “Seperti biasa.” Lalu nanya lagi, “Yang kayak gimana?” Saya jawab, “Liat keranjang syopi aja. Tinggal check-out in salah satu atau duanya.” Hahahahahah. Alhamdulillah. Ayangbeb check-out ini buku Pesona Baghdad dan Andalusia ini. Lumayaann~

Spesifikasi

Judul : Pesona Baghdad & Andalusia, Meneropong Masa Kejayaan Islam di Baghdad dan Andalusia

Penulis : Rizem Aizid

Penerbit : Diva Press

Jumlah Halaman : 376 halaman

Sekilas Tentang Buku

Untuk ukuran buku yang membahas masa lalu, buku ini tergolong cukup ringan dan mudah dipahami. Walau menurut saya ada beberapa hal yang mungkin butuh konfirmasi ulang, seperti misalnya masa jabatan Idris II dari Dinasti Idrisiyah. Karena dalam redaksi buku tersebut dikatakan bahwa Idris II masih dalam kandungan saat Idris I wafat. Jadi Idris II diangkat sebagai sultan setelah lahir. Kayak mana lah tuh bayi memimpin sebuah dinasti? Bahkan dikatakan Idris II membawa Dinasti Idrisiyah ke dalam kemajuan yang cukup baik. Anak bayi? Serius? Sebelum menulis review ini, saya sudah mencoba baca lagi bab Dinasti Idrisiyah ini. Tapi sepertinya memang ada yang keliru dalam penulisan rentan masa jabatan Idris II dari wafatnya Idris I. 

Selain itu juga ada banyak typo nya. Ya, nggak ganggu amat sih. Cuma rasanya pingin jadi proofreader nya deh. Wkwkwwk. Entah kenapa rasanya gemas sekali dengan buku yang sudah diterbitkan tapi banyak typo nya. Emaaann sebenarnya. 

Lalu juga kualitas kertasnya tipis banget. Tapi harap maklum aja. Harganya juga lumayan murah sih. Sepertinya penerbit ingin tetap menyediakan buku bagus tapi dengan harga murah. Apalagi hidup di negara awokwok kayak gini, yang nggak ada subsidi untuk buku, mau nggak mau penerbit harus putar otak biar bisnis tetap jalan. 

Tapi dibalik kekurangannya tersebut, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Karena tanda dari menariknya buku ini adalah saya cepat selesai bacanya. Wkwkwkk. Ya, memang nggak selesai dalam waktu 1 - 2 hari atau 1 minggu sih. Tapi setidaknya buku ini lebih cepat selesai dari buku sebelumnya yang saya baca. Karena nagih banget bacanya. Selalu ada rasa ingin baca lagi, baca terus. 

Selain itu juga pembahasan tentang sejarah dinasti dalam Islam memang selalu menarik untuk dibaca. Melalui buku ini, saya jadi tau kalau ternyata penaklukan Andalusia terjadi melalui proses panjang yaitu sejak Umayyah I masih berkuasa. Dan uniknya, pada awal Umayyah II berkuasa di Andalusia, sistem pemerintahannya adalah sistem keamiran. Setelah itu berubah sistem menjadi kekhalifahan. Saya pribadi juga baru tau ada sistem pemerintahan seperti itu. Akan tetapi jika melihat sistem kekhalifahan secara makna, bahwa sistem tersebut adalah pemerintahan tunggal yang menyatukan umat Islam sedunia, tapi kenapa ada 2 khalifah di masa itu? Maksud saya, Umayah II mendirikan kekhalifahan di Andalusia kan sebelum Abbasiyah runtuh. Bukankah umat Islam harusnya berbaiat pada 1 khalifah saja di masa itu? Tapi bagaimana bisa Umayyah II berkuasa disaat masih ada khalifah lain yang masih berkuasa? 

Lalu ada 1 hal yang sangat saya sayangkan juga dari buku ini. Yaitu tidak ada satupun nama tokoh muslimah yang disebutkan oleh penulis dalam buku ini. Padahal saat kejayaan Abbasiyah dan Umayyah II, ada banyak tokoh muslimah yang juga memberikan kontribusi besar dalam kemajuan khasanah keilmuan pada masa itu. Tapi kenapa penulis hanya menyebutkan tokoh laki-laki saja? Kenapa para tokoh perempuan yang memberikan kontribusi tidak disebutkan juga? Huh~

Kontemplasi

Beberapa bulan ini, saya lebih sering membaca buku biografi dan juga sejarah, utamanya yang berkaitan dengan tokoh Islam dan sejarah kekhalifahan. Membaca tentang kejayaan Islam memang sangat mengagumkan, namun ada 1 hal yang mengganjal di hati saya termasuk ketika membaca buku Pesona Baghdad dan Andalusia ini, yaitu tentang keegoisan dan keserakahan manusia. Mau ditilik dari sisi manapun, keegoisan dan keserakahan selalu menjadi penyebab utama kehancuran sebuah peradaban. Pada masa kekuasaan Abbasiyah dan Umayyah II, umat Islam memang mengalami kemajuan yang amat pesat. Disaat orang-orang di Eropa masih mengalami kegelapan dan ketersesatan, namun tidak bagi umat Islam di masa itu yang justru menjadi suar penerang peradaban. Namun hal tersebut tidak berlangsung selamanya. Akibat keegoisan dan keserakahan yang merasuki para penguasa pada masa itu, justru melemahkan dan menghancurkan kejayaan apa yang telah mereka bangun. 

Hal tersebut membuat saya menilik kondisi pemerintahan negara saya saat ini. Saya merasa pemerintahan saat ini makin kesini makin mengalami kemunduran. Sebagian besar mereka berjuang untuk jadi penguasa hanya untuk mengeruk kekayaan Indonesia dan memanfaatkan ketidakmampuan rakyatnya. Alhasil kondisi rakyat Indonesia saat ini ya begini-begini saja. Lagi lagi kerakusan, keserakahan dan keegoisan menjadi hal yang membuat rakyat Indonesia terpuruk, sedangkan pejabatnya, masih bisa hidup makmur. 

Dengan kondisi yang demikian, saya jadi bertanya-tanya, akan sampai kapan Indonesia ini akan bertahan? Apakah suatu hari nanti Indonesia akan mengalami kehancuran? Walaupun masih tetap berdiri, apa mungkin akan ada daerah yang melepaskan diri dari Indonesia akibat tidak tahan untuk dianaktirikan? Entahlah. Namun yang pasti, rasanya kita nggak bisa deh terus-terusan membiarkan kezaliman macam ini berlangsung di negeri ini. Tapi saya juga nggak tau bagaimana memperbaikinya saking banyaaaakknya kerusakan yang terjadi di negara ini, termasuk kerusakan moral pejabatnya. Namun semoga saja suatu hari nanti bangsa ini dianugerahi pemimpin yang amanah, cerdas, bijaksana. 



Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller

Related Posts

Post a Comment