Akhir-akhir ini lagi suka banget baca buku yang berkaitan dengan sejarah ataupun biografi para tokoh. Terutama yang datang dari dunia Islam. Pas liat Penerbit Qaf menerbitkan buku ini, langsung ikutan PO nya karena harga lebih murah saat PO. Wkwkwk. Harap maklum, mamak ekonomis emang paling demen yang namanya diskonan 🤣.
Namun ada 1 hal yang menurut saya paling menarik bin aneh dari buku ini, yaitu si penulis memasukkan daftar para Khulafaur Rasyidin ke dalam 100 tokoh tersebut, kecuali Utsman bin Affan. Menurut saya ini aneh! Padahal pada tiap khalifah punya gebrakannya sendiri-sendiri. Apalagi Utsman adalah khalifah yang sangat berjasa dalam kodifikasi al-Qur’an. Kok nggak dimasukkan ya? Tapi beliau malah memasukkan Muawiyah. Salah tokoh yang berpengaruh, tapi juga kontroversial.
Lalu pada abad ke 8, beliau memasukkan al Hajjaj dalam 100 tokoh tersebut. Ya, memang al Hajjaj punya pengaruh besar dalam meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa Umayyah. Akan tetapi dia juga sangat kontroversial. Padahal ada tokoh lain pada abad tersebut yang nggak kalah punya jasa besar dalam Islam seperti Umar bin Abdul Aziz. Tapi penulis tidak memasukkan Umar dalam daftar 100 tokoh tersebut. Kok bisaaa??
Spesifikasi
Judul : 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah Islam
Penulis : Husein Ahmad Amin
Penerbit : Qaf Media Kreativa
Jumlah Halaman : 347 halaman
Sekilas Tentang Buku
Pertama-tama, perlu diketahui bahwa buku ini bukanlah buku biografi tentang para tokoh yang ditampilkan dalam buku. Melainkan hanya penjabaran singkat tentang peran sih tokoh dan juga pengaruhnya terhadap dunia Islam. Karena kalau mau ditulis biografi per tokohnya, saya nggak bisa ngebayangin kayak apa tebalnya buku ini nantinya. Sehingga buku ini hanya menuliskan sekilas saja tentang si tokoh. Kayak semacam sekedar kenal aja, selebihnya atau detailnya cari tau lagi sendiri 😂.
Penulis membagi tokoh-tokoh tersebut berdasarkan abad. Karena dengan membaginya sesuai masa hidupnya, kita jadi tahu bagaimana jalan pikir pada tiap tokoh tersebut. Semakin maju, maka pemikiran tokoh tersebut akan semakin dipengaruhi oleh modernitas. Namun tanpa menanggalkan spiritualitas dan religiusitasnya.
Penulis hanya menjabarkan tiap tokoh dalam 2-3 lembar halaman saja. Jadi bisa dibayangkan betapa ringkasnya perkenalan yang disajikan penulis terhadap tiap tokoh di buku ini. Tapi dalam Kata Pengantar, penulis memang sudah menegaskan bahwa buku ini bukanlah buku biografi. Melainkan beliau hanya menunjukkan kontribusi besar pada tiap tokoh bagi dunia Islam. Namun beliau menyadari betul bahwa pasti akan ada keberatan yang muncul terkait pemilihan tokoh dalam buku ini. Namun beliau memberikan alasannya bahwa pemilihan tokoh berdasarkan penilaian subjektif dari penulis. Dan alasan kedua adalah jika ada tokoh yang memiliki kesamaan prestasi, maka beliau memilih salah satunya.
Penulis sadar betul bahwa dalam dunia Islam ada banyak sekali tokoh yang memiliki prestasi dan kontribusi besar bagi kehidupan. Tapi kalau dimasukkan semua dalam buku, tentunya nggak mungkin banget. Maka mau nggak mau harus memilih. Walau penilaiannya sangat subjektif.
Tapi saya pribadi sejujurnya agak menyayangkan karena beliau justru lebih memilih memasukkan al Hajjaj daripada Umar bin Abdul Aziz. Dalam paragraf awal Kata Pengantar, beliau menuliskan bahwa dalam buku ini, penulis menyajikan kontribusi terpenting dan sumbangsih besar bagi peradaban Islam dan dunia. Namun sebagaimana yang kita tahu bahwa al Hajjaj adalah seorang yang sangat licik, yang pernah memenggal kepala Ibnu az Zubair. Udah gitu dia juga pernah penghinaan terhadap haramain. Lalu dia juga terkenal kejam sekali karena pernah membunuh banyak sekali jiwa pada masanya. Sehingga saya merasa dia nggak pantes disebut memberikan sumbangsih besar terhadap peradaban. Memang dia cerdas, tapi dia juga licik dan jahat.
Selain itu, ada beberapa pernyataan tentang Ali bin Abi Thalib, pun termasuk tokoh lainnya, yang saya belum pernah dengar sebelumnya. Beliau menuliskan bahwa Ali dianggap sebagai seorang yang berpandangan sempit oleh rakyatnya pada masa itu. Namun saya jadi merasa sanksi dengan pernyataan tersebut. Mengingat Ali disebut sebagai gerbang ilmu. Namun bagaimana bisa seorang gerbang ilmu bisa berpandangan sempit? Dan pernyataan paradoks lainnya yang terdapat pada tokoh lain dalam buku ini. Oleh karenanya saya jadi penasaran untuk membaca biografi dari tokoh-tokoh tersebut. Tapi entah saya bakalan kuat apa nggak buat baca banyak buku biografi. Khawatir mumet bin bosan 🤣.
Tapi sejujurnya, sepanjang baca buku ini saya merasa bosan sekali. Karena ada banyak nama yang muncul dalam buku ini yang bikin saya bingung. Apalagi saya nggak banyak tahu tentang sebagian besar sejarah para tokoh tersebut. Alhasil saya jadi banyak roamingnya 😂. Tapi ya sudah sih ya. Anggap perkenalan aja.
Kontemplasi
Meskipun saya merasa bosan saat membaca buku ini, namun ada satu hal penting yang saya pelajari bahwa perbedaan pendapat itu akan selalu ada sampai akhir masa. Tiap orang berbeda pendapat bisa jadi karena berbeda sudut pandang dalam menilai satu hal. Meski alat yang digunakan sama dalam menilai, namun jika cara pandangnya berbeda, maka berbeda pula pemaknaannya. Perbedaan inilah yang seringkali menjadi sumber kekacauan jika kita tidak mencoba untuk mengharmonisasikannya. Padahal perbedaan tersebut bisa memperkaya khazanah keilmuan kita.
Tapi ya lagi-lagi, namanya manusia berhadapan dengan manusia yang sama-sama punya ego. Maka pertikaian kadang sulit untuk diselesaikan jika ego masih membumbung tinggi.
Mau Kasih Nilai Berapa?
Enaknya kasih nilai berapa ya? Kasih nilai 8 aja ya. Meski merasa bosan, tapi buku ini tetap membuka cakrawala pengetahuan. Baik pada tokoh maupun kontribusi dan kontroversinya.






Post a Comment
Post a Comment