Tags

Dua Suap

 

Sudah beberapa hari ini Hening hanya ingin sarapan 2 suap saja. Tentu sebagai ibu saya ada perasaan khawatir. Bagaimana nanti kalau kelaparan di sekolah? Kan kasihan kalau sampai sakit perut karena lapar. Memang sih dia bawa bekal juga, tapi dia cuma bawa bekal jajan pasar yang cuma 2 biji itu. Dia nggak mau bawa banyak-banyak karena sama ustadzah nggak boleh nyisain bekal 😂. Lalu akhirnya saya bilang ke suami, “Biar sajalah Hening makan cuma dikit. Biar dia tau rasanya lapar kayak gimana. Ntar juga minta makan agak banyakan.”

Terus pagi tadi, pas lagi nyuapin Hening, saya bilang ke dia, “Ntar nyesel lho kalo makan dikit doang. Kan mumpung lauknya tongkol.” Lalu Hening menggeleng sambil bilang nggak. 

Saat perjalanan pulang dari nganter sekolah, saya mencoba menghikmahi makannya Hening yang cuma 2 suap itu. Memang kalau kita lihat 2 suap itu kayak nggak ada isinya. Cuma sekedar ngeganjel perut aja kayaknya masih kurang deh. Nutrisinya pun bisa dianggap kurang banget karena cuma 2 suap saja. Akan tetapi saya coba lihat dari sudut pandang lain. Bahwasanya anak saya sedang belajar arti cukup. Karena bagi dia, 2 suap itu cukup kok buat dia. Saya percaya dia nggak akan bohong hanya untuk menyenangkan hati saya. Kalau dia bilang cukup, ya berarti memang cukup. Walau nanti siangnya ya dia mulai kelaparan dan makannya agak banyak. Tentu banyak dalam porsi anak-anak. 

Memang betul anak-anak harus mendapatkan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi sisi lain saya menganggap makannya yang cuma 2 suap itu adalah salah satu jalan pembuka untuk berkenalan dengan arti cukup. Sehingga saya berharap dari makanan yang cuma 2 suap itu menjadi wasilah bagi dia di masa depan untuk selalu qona’ah, nggak nggethu ngejar dunia, mengambil secukupnya saja dari dunia sesuai kebutuhannya. 

Lagian meski sarapannya hanya 2 suap, makan siang dan malam lumayan banyak kok. Sehingga untuk kebutuhan gizinya insyaa Allah bisa mencukupi. Jadi saya nggak perlu mengkhawatirkan sarapannya yang 2 suap itu. Justru saya harus khawatir kalau anak saya terlalu rakus saat makan apalagi sampai merebut makanan orang lain. 

Dua suapnya di pagi hari mungkin tampak tak bergizi di mata manusia. Namun saya, sebagai ibunya, berharap agar semoga 2 suap itu mengenyangkan batinnya terhadap dunia sehingga dia tidak perlu berlelah-lelah mengejar dunia. Melainkan cukup berlelah-lelah mengejar apa-apa yang perlu dibawa hingga akhirat. Allahu a’lam bishowab. 



Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller
Newest Older

Related Posts

Post a Comment